BIOGRAFI PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA
“CUT NYAK DHIEN”
Oleh
YUDI SUARDI
XII.IA 2
006078
SMA NEGERI 3 SOPPENG
2017
Puji syukur penulis panjatkan
ke hadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat, karunia, hidayah, dan
ridho-Nya, penulis dapat menyelesaikan Laporan yang berjudul “Biografi Pahlawan
Nasional Cut Nyak Dhien”.
Penulis banyak mendapatkan
bantuan, bimbingan, arahan, saran, dan dorongan dari berbagai pihak dalam
penulisan laporan ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.
Asri Astuti,S.Pd,M.Pd, selaku Pembimbing, yang telah memberikan
bimbingan, motivasi, nasehat, arahan, dan kritik selama proses penyelesaian laporan;
2.
Ibunda tercinta atas segala cinta kasih, semangat,
dukungan, dan doa tulus yang diberikan, serta pengorbanan yang tiada pernah
putus diberikan kepada penulis;
3.
Teman-teman dan
semua pihak terkait yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis berharap semoga Allah
SWT membalas kebaikan seluruh pihak yang telah membantu. Semoga laporan ini
dapat bermanfaat.
Dare Ajue,14 Oktober 2017
Penulis,
Yudi Suardi
DAFTAR
ISI
halaman
HALAMAN
JUDUL................................................................................................................................i
1. Diangkat Menjadi Panglima...................................................................................
46
2.Teuku Umar Gugur ..................................................................................................47
PENUTUP..............................................................................................................................................62
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................................................64
PENDAHULUAN
Berbicara masalah
gender, Aceh dapat
dijadikan contoh bagi
daerah lain di Indonesia. Sejarah panjang yang dimiliki
daerah ini membuktikan bahwa para wanita Aceh
telah mendarmabaktikan dirinya
dalam berbagai bidang,
baik sebagai pemimpin di tingkat
paling rendah sampai dengan pemimpin tertinggi di masyarakat.Dalam struktur
masyarakat wanita mempunyai
otonomi yang cukup,
yang mana tampak pada sebutan
porumoh bagi wanita. (Sufi, 1997). Di bidang lain terlihat dari adanya wanita
yang menjadi Sultanah (wanita kepala pemerintahan Kerajaan Aceh),
laksamana (pemimpm angkatan
perang), uleebalang (kepala
kenegerian) dan tidak sedikit yang berperan sebapai pemimpin
perlawanan terhadap penjajah.
Peran wanita
di Aceh dalam
bidang peperangan secara
panjang lebar telah diuraikan oleh
H.C. Zentgraff. Dia
menyebut para wanita
Aceh sebagai "de
leidster van het verzet"
(pemimpin perlawanan) dan
grandes dames (wanita-wanita besar). Keberanian dan kesatriaan wanita Aceh
melebihi segala wanita yang lain, lebih-lebih dalam mempertahankan cita-cita
kebangsaan dan keagamaannya
dan ia berada, baik
di belakang layar
maupun secara terang-terangan menjadi
pemimpin perlawanan
tersebut. la rela
menerima hidup dalam kancah
peperangan. Di balik tangan
yang sifat lemah-lembut,
kulit halus, kelewang
dan rencong dapat
menjadi senjata yang berbahaya
di tangan wanita
Aceh. Zentgraaff (1983: 95)
menyatakan kelebihan yang dipunyai oleh wanita Aceh dengan pernyataan
sebagai berikut:
"Dari pengalaman yang
dimiliki oleh panglima-panglima perang Belanda yang telah melakukan peperangan
di segala penjuru dan pojok Kepulauan Indonesia, bahwa tidak ada bangsa yang
lebih pemberani perang serta fanatik, dibandingkan dengan bangsa Aceh, dan kaum
wanita Aceh yang melebihi kaum wanita bangsa lainnya, dalam keberanian dan
tidak gentar mati. Bahkan, mereka pun melampaui kaum laki-laki Aceh yang sudah
dikenal bukanlah laki-laki lemah dalam mempertahankan cita-cita bangsa dan
agama mereka".
Salah satu Srikandi Aceh yang
sesuai dengan gambaran H.C. Zentgraff di atas adalah Cut
Nyak Dhien. la
adalah seorang wanita
yang mempunyai peran
penting dalam perjuangan dan
perlawanan rakyat Aceh
dalam menentang kolonialisme Belanda. Banyak
sudah tulisan-tulisan sejarah
yang pernah ditulis
oleh bangsa Indonesia maupun
bangsa asing, bahkan melalui "tangan dingin" seorang sutradara
terkenal di Indonesia Eros Djarot, Cut Nyak Dhien telah difilmkan dan
mendapatkan supremasi yang terbesar
di pentas perfilman
di Indonesia dan
festival film Asia.Sebagai penghargaan terhadap perjuangan
Cut Nyak Dhien, pemerintah mengangkat Cut
Nyak Dhien sebagai
pahlawan nasional melalui
Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 106/TK/1964
tanggal 2 Mei 1964.
·
Nama
Lengkap
|
Tjoet Njak Dhien
|
·
Ejaan
|
Cut Nyak Dien
|
·
Dikenal
Sebagai
|
Pahlawan Nasional
|
·
Tempat
Lahir
|
Lampadang, Aceh
|
·
Tanggal
Lahir
|
Selasa,6 November 1848
|
·
Agama
|
Islam
|
·
Warga
Negara
|
Indonesia
|
·
Suami
|
Teuku Cek Ibrahim
|
Teuku Umar
|
|
·
Anak
|
Cut Gambang
|
WILAYAH VI MUKIM TEMPAT
KELAHIRAN
CUT NYAK DHIEN
Lampadang adalah kampung tempat
kelahiran Cut Nyak Din, Luasnya kira-kira 10 hektar. Kampung ini termasuk
wilayah VI Mukim dengan ibu kotanya Paukan Bada. Wilayah VI Mukim terletak di
pantai utara bagian barat Aceh Besar. Di bagian utara wilayah ini berbatasan
dengan laut dengan Uleele sebagai pelabuhannya. Antara Tanjung dan Uleele
terdapat sebuah danau yang tenang, dan dapat dipakai untuk berlabuh perahu dan
kapal. Di bagian timur wilayah ini, yaitu yang berbatasan dengan Meuraksa
terdapat Kampung Bitae dan Lamjamu. Di bagian selatan dan barat daerah ini
dipagari oleh Pegunungan Ngalau Ngarai Beradin. Di bagian pantainya terdapat
Kampung Lamtengah, tempat kelahiran penyair Aceh terkenal Dulkarim (Abdul
Karim). Di Kampung Lampagar terdapat makam Sultan Sulaiman dan Lamtah yang
dihancurkan oleh serangan Belanda dalam tahun 1875. Di bagian selatan Peukan
Bada, di samping Cut Cako terdapat Ngalau Ngarai Beradin, sebuah tempat yang
strategis dan menjadi tempat bertahan pejuang Aceh dan kemudian Kampung
Lampisang tempat Cut Nyak Din dan Teuku membangun rumah tangga setelah kembali
dari pengungsian."
Keadaan
alam yang baik dan subur ini kiranya menentukan mata pencaharian rakyatnya
menjadi petani, berlayar dan berdagang sehingga semua rakyat merasakan
kehidupan yang makmur dan aman sentosa. Kampung-kampung di wilayah ini tersusun
rapi. rumah adat yang merupakan rumah panggung berdiri megah di bawah naungan
pepohonan yang rindang, sehingga udaranya nyaman dan menyenangkan bagi
penduduknya.
Rumah Aceh sebagai rumah adat berdiri
kokoh, sekokoh adat dan tradisinya yang diwariskan oleh nenek-moyang mereka.
Untuk menjaga ketertiban dan keamanan pada tiap kampung di wilayah VI Mukim, di
sekelilingnya dipagar rapi dan kokoh. Pagar ini dibuat dari bambu. Dengan
demikian ketertiban dan keamanan dapat terjamin. Penjahat dan binatang tidak
dapat bebas keluar-masuk kampung tersebut.
Di
tiap kampung berdiri meunasah sebagai tempat beribadat yang dilakukan bersama
oleh penghuni kampung tersebut Meunasah memegang peranan penting dalam bulan
puasa karena setiap malam pada bulan puasa penghuni melakukan sembahyang
tarawih bersama dan dilanjutkan dengan pembacaan Al-Qur'an sampai menjelang
sahur. Bagi pemuda kampung meunasah berfungsi sebagai tempat istirahat dan
tidur malam. Tempat ini dapat pula menampung para musafir untuk bermalam. Pada
hari-hari biasa meunasah dipergunakan untuk tempat belajar mengaji bagi
anak-anak dan untuk mengadakan pertemuan dalam memecahkan suatu masalah.
Tanggung jawab meunasah ini diserahkan kepada "teuku menasah".
Kampung
ini biasa bergabung beberapa kelompok kecil atau kaum menjadi satu kesatuan
dalam administrasi pemerintahan. Pimpinannya disebut keucik. Dalam menjalankan
tugas dan kewajiban sehari-hari, keucik didampingi oleh "imeum".
Sedang orang tua yang mengetahui tentang adat diangkat sebagai penasihat dan
tugasnya mendampingi keucik dalam memutuskan suatu perkara yang berhubungan
dengan adat. Beberapa kampung kemudian bergabung menjadi satu unit vang lebih
luas dan disebut mukim. Pimpinannva disebut ketua mukim atau kepala
mukim."
Sebagai
lambang persatuannya didirikanlah sebuah mesjid. Mesjid sangat memegang peranan
dalam masvarakat karena sekurangkurangnva setiap seminggu sekali rakvat mukim
tersebut akan bertemu dalam
melakukan Sembahyang Jum'at di mesjid itu. Mesjid merupakan pusat dalam dakwah
Islamiyah dari pada ulama dan mubalig. Dalam gerak pembangunan ulama tetap mendampingi
pimpinan, sehingga pembangunan berjalan sejajar dengan kebutuhan rohani menuju
akhirat.
Pada
tingkatan atas dari susunan pemerintah adalah sagi. Wilayahnya terdiri atas
beberapa mukim yang bergabung menjadi satu kesatuan wilayah dan pimpinannya disebut
uleebalang. Uleebalang bertanggungjawab langsung kepada sultan Aceh.
Demikianlah sekedar gambaran tentang tempat kelahiran Cut Nyak Din. Wilayah VI
Mukim berada di bawah pimpinan Uleebalang Nanta Cik Seutia Raja, ayah Cut Nyak
Din.
Cut
Nyak Din dilahirkan kira-kira dalam tahun 1850, di Kampung Lampadang, wilayah
VI Mukim, Aceh Besar. Ayahnya bernama Nanta Muda Seutia, berasal dari turunan
Makhdum Sati, seorang perantau dari daerah Sumatra Barat. Ia adalah cikal-bakal
yang membangun wilayah VI Mukim menjadi lebih terkenal dan makmur.
Ibunya
seorang turunan bangsawan yang terpandang dari Kampung Lampagar. Karena
istrinya inilah maka nama Nanta Muda Seutia makin terkenal dan dihormati oleh
rakyat VI Mukim.Pada
waktu sebelum Nanta menjadi uleebalang, wilayah VI Mukim dipimpin oleh
Uleebalang Teuku Nek dan pusat kedudukannya berada di Meuraksa. Ia menjalankan
pemerintahan wilayah VI Mukim kurang adil dan kurang bijaksana. Rakyat sangat
tertekan dan menderita oleh tindakan pemerasan yang dilakukan oleh Teuku Nek.
Karena praktek yang merugikan ini, ia tidak disenangi oleh rakyat VI Mukim.
Pada
abad ke-I7 kekuasaan Aceh telah meluas sampai ke Sumatra Barat.5' Daerah ini
sangat penting artinya bagi Aceh baik dalam bidang politik maupun dalam bidang
ekonomi. Dalam bidang politik berarti Aceh telah menanamkan kekuasaannya dan
daerah ini merupakan "vazal".
Sedangkan dalam bidang ekonomi daerah ini merupakan penghasil lada yang sangat
penting dalam pasaran dunia dan dengan menguasai daerah tersebut berarti dapat
menarik keuntungan yang banyak bagi Aceh. Karena perkembangan ini Ratu Tajjul
Alam mengangkat Uleebalang Panglima Nanta untuk mengatur dan mengawasi daerah
vazal ini.6> Salah seorang keturunannya, ialah Makhdun Sati. Dalam tubuh
Makhdun Sati mengalir darah Aceh dan darah Minangkabau.
Dalam
zaman pemerintahan Sultan Jamalul Alam (1703 — 1726), Makhdun Sati beserta
rombongan yang terdiri 12 perahu berlayar menuju arah utara melalui pantai
barat Pulau Sumatra. Pelayaran ini terdorong oleh adanya berita yang menarik
hati mereka, bahwa di ujung utara Pulau Sumatra banyak terdapat kekayaan alam
yang terpendam berupa emas. Dengan menempuh perjalanan panjang dan lama,
rombongan Makhdun Sati sampai di Pasir Karam. Daerah ini terletak di pantai
barat Aceh dekat Meulaboh. Kemudian rombongan ini tinggal menetap untuk membuat
perkampungan dan melalui hidup baru biarpun daerah ini masih asing bagi mereka.
Ketika
rombongan Makhdum Sati mendarat di Pasir Karam, sepasukan tentara Aceh sedang
bertempur menghadapi pengacau suku Mantir yang belum memeluk ajaran Islam.8'
Pasukan Aceh yang sedikit jumlahnya ini hampir terdesak oleh pengacau Mantir
yang lebih banyak jumlahnva. Melihat tekanan yang diberikan suku Mantir,
Makhdun Sati dengan rombongannya yang merasa berkewajiban menolong sesama Islam
memberikan bantuan. Kerjasama yang rapi menvebabkan gerombolan pengacau Mantir
dapat dikalahkan dan mereka yang tinggal melarikan diri ke arah hulu ke
pegununggan. Dengan kekalahan suku Mantir, daerah ini menjadi aman.
Sebagai
rasa terima kasih kepada bantuan Makhdun Sati. pimpinan pasukan Aceh dengan
ikhlas memberikan daerah Pasir Karam untuk dibagi-bagikan kepada rombongan
Makhdun Sati sebagai tempat tinggal mereka. Kemudian dengan penuh ketekunan
mereka membuka persawahan dan peladangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Rumah-rumah dibangun dengan bergotong-royong, sesuai dengan rumah adat yang
ditinggalkannya, dalam waktu singkat Makhdun Sati serta pengikutnya telah
menjadi orang-orang makmur.
Selanjutnya
mereka dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat setempat, sehingga
persaudaraan terjalin secara akrab seperti di kampung yang di tinggalkannya.
Kemudian Makhdun Sati berserta rakyatnya menyatakan kesetiaannya kepada
kekuasaan Sultan Aceh.Karena
tidak adanya kepuasan, maka Makhdun Sati membawa rakyatnya bergerak ke utara
lagi ke muara Sungai Wolya. Daerah ini lebih subur daripada daerah Pasir Karam
Daerah ini terletak antara daerah Pidie dan Gleupang. Kemudian mereka membuka
persawahan dan ladang untuk menanam lada. Di samping itu mereka menemukan bijih
emas yang dibawa arus Sungai Wolya. Kerena itu rakyat Makhdun Sati setiap hari
dengan tekun mengumpulkan bijih-bijih emas pada tempat ini. Dengan penuh
ketekutan mereka dapat mengumpulkan emas dalam jumlah yang banyak. Berkat
kemakmuran yang diperoleh rakyat. Makhdun Sati membangun sebuah kota di Kuala
Bie sebelah utara Pasir Aceh lengkap dengan rumah adatnya. Kota ini menjadi
kota dagang dan terus berkembang serta menjadi lebih ramai dengan kedatangan
pedagang dari berbagai penjuru . Perkembangan kota menjadi kota dagang turut
mengangkat nama Makhdun Sati. Rakyatnya makin makmur karena dapat mengambil
keuntungan dari pedagang tersebut.
Berita
kemakmuran daerah Makhdun Sati terdengar oleh Sultan Aceh yang berkuasa. Daerah
ini merupakan wilayah Aceh yang harus tunduk pada peraturan sultan. Setiap
daerah harus menyerahkan upeti kepada sultan sebagai tanda setia. Karena itu
sultan mengirim utusan kepada Makhdun Sati sebagai penguasa daerah agar menyerahkan
upeti. Tetapi Makhdun Sati dengan keras menolak apa yang dikehendaki Sultan
Aceh. Sebagai rasa tidak senang, ia menyerahkan upeti kepada sultan berupa besi
tua yang berkarat sebagai persembahan. Menerima itu sultan sangat marah, ia
merasa dihina oleh perbuatan
Makhdun Sati. Karena itu sultan mengirim sepasukan tentara di bawah pimpinan
Panglima Penghulu Perahu dari Keumangan untuk mengambil tindakan. Pasukan
Penghulu Penaru dapat menghancurkan kekuatan Makhdun Sati. Hampir Makhdun Sati
dapat ditawan dan dibawa menghadap sultan Aceh. Karena kesalahannya yang berat,
yakni melawan kekuasaan yang sah dengan menggerakkan rakyatnya, maka majelis
pengadilan kerajaan
menjatuhkan hukuman mati buat
Makhdun Sati. Tetapi dengan beberapa pertimbangan sultan mengambil kebijaksanaan untuk memberi ampunan atas kesalahan yang diperbuat Makhdun Sati. Makhdun Sati menginsafi tindakkannya yang salah, karena itu setelah diberi ampunan, ia mengabdi kepada sultan Aceh. Karena itu ia diangkat oleh suitan menjadi barisan pengawal istana kesultanan dan ia mendapat tempat di wilayah VI Mukim, dekat Betay.
Makhdun Sati. Tetapi dengan beberapa pertimbangan sultan mengambil kebijaksanaan untuk memberi ampunan atas kesalahan yang diperbuat Makhdun Sati. Makhdun Sati menginsafi tindakkannya yang salah, karena itu setelah diberi ampunan, ia mengabdi kepada sultan Aceh. Karena itu ia diangkat oleh suitan menjadi barisan pengawal istana kesultanan dan ia mendapat tempat di wilayah VI Mukim, dekat Betay.
Pada
masa pemerintahan Sultan Alaidin Muhammad Syah (1787 — 1795) timbul sedikit
keguncangan politik dalam pemerintah Aceh, sungguh pun Sultan telah berusaha
menjalankan pemerintahan dengan baik. Ia berusaha menempatkan diri dengan adil
dan terus mengadakan hubungan baik dengan Panglima Sagi XXII Mukim yang masih
mempunyai hubungan darah dengan Sultan Iskandar Muda. Tetapi karena suatu hal
kecil saja. Panglima Sagi XXII Mukim merasa sakit hati pada sultan. Karena hal
tersebut. Panglima Sagi XXII mengerahkan kekuatannya untuk menyerang kraton
hendak menjatuhkan sultan dan akan menggantikannya. Serangan dilakukan dari
berbagai jurusan. Hubungan istana ke luar diputuskan; suplai makanan ke istana
diawasi dengan ketat, sehingga istana hampir kehabisan bahan makanan. Panglima
Istana yang mengatur pertahanan tak dapat berbuat banyak. Mereka hanya bertahan
dalam benteng menunggu kehancuran. Sedangkan serangan yang dilancarkan pasukan
Panglima Sagi XXII Mukim makin rapat dan sangat mencemaskan isi kraton.
Dalam
kemelut yang menentukan ini, kalah atau menang Makhdun Sati dengan pengikutnya
datang dari VI Mukim secara diamdiam di waktu malam memberikan bantuan kepada
sultan."' Pasukannya bergerak cepat memotong pasukan Panglima Sagi XXII
Mukim dan berusaha terus mendesak keluar. Sebelum fajar menyingsing pasukan
tersebut telah dapat memukul mundur pasukan Panglima Sagi XXII Mukim dan
pasukan penyelamat secara diamdiam pula menghilang kembali ke VI Mukim. Kiranya
bantuan ini dapat menyelamatkan kedudukan sultan.
Atas jasa Makhdun Sati kepada Sultan
Alaidin Muhammad Syah, sultan menganugrahkan pangkat kehormatan kepadanya
menjadi
Panglima Sagi dan dengan nama tambahan "Nanta", seperti nama neneknya. Dan karena kesetiaannya kepada sultan, namanya menjadi Seutia Raja. Kemudian ditambahkan pula nama kebesaran, Uleebalang Poteo, '"' vang artinya hulubalang sultan dan bebas dari Panglima Sagi. Keputusan sultan tersebut dicantumkan sebagai tambahan dalam Undang-undang Mahkota Alam. Dengan demikian namanya secara lengkap menjadi Panglima Nanta Cik Seutia Raja.Setelah kedudukannya dikukuhkan sultan Aceh, daerah kekuasaan Nanta Cik diperluas dengan menambah pulau-pulau yang terletak dipantai wilayah VI Mukim. Kepadanya diberikan kekuasaan penuh untuk mengatur daerah tersebut seperti pengaturan kapal dan perahu keluar masuk dan memungut bea cuka lain lainnya.
Panglima Sagi dan dengan nama tambahan "Nanta", seperti nama neneknya. Dan karena kesetiaannya kepada sultan, namanya menjadi Seutia Raja. Kemudian ditambahkan pula nama kebesaran, Uleebalang Poteo, '"' vang artinya hulubalang sultan dan bebas dari Panglima Sagi. Keputusan sultan tersebut dicantumkan sebagai tambahan dalam Undang-undang Mahkota Alam. Dengan demikian namanya secara lengkap menjadi Panglima Nanta Cik Seutia Raja.Setelah kedudukannya dikukuhkan sultan Aceh, daerah kekuasaan Nanta Cik diperluas dengan menambah pulau-pulau yang terletak dipantai wilayah VI Mukim. Kepadanya diberikan kekuasaan penuh untuk mengatur daerah tersebut seperti pengaturan kapal dan perahu keluar masuk dan memungut bea cuka lain lainnya.
Nama
kebesaran dan kedudukannya boleh terus diwariskan kepada anak-cucunya.
Kedudukan Nanta makin bertambah kuat setelah ia kawin dengan anak Teuku Nek
bangsawan dari Meuraksa. Teku Nek adalah seorang yang terpandang dan di segani.
Ia pernah diangkat menjadi panglima perang dalam masa pemerintahan Sultan
Sulaiman Syah. Dari perkawinan ini lahirlah Teuku Nanta Muda Seutia dan Teuku
Cut Muhammad Teuku Nanta Muda Seutia kawin dengan anak bangsawan Lampagar.
Anaknya adalah Teuku Rayut dan Teuku Cut Nyak Din.
Teuku
Rayut akalnya kurang sempurna sehingga ia tidak diharapkan oleh Nanta untuk
menggantikan kedudukannya sebagai uleebalang di VI Mukim. Karena itu Teuku
Nanta lebih banyak memperhatikan Cut Nyak Din. Ia mengharapkan Cut Nyak Din
dapat meneruskan kedudukannya sebagai pemimpin di VI Mukim.Teuku Muhammad kawin
dengan Cut Mahani, adik keujuran Abdul Rahman dari Meulaboh. Anaknya enam
orang, dua perempuan dan empat laki-laki. Yang laki-laki antara lain Teuku Cut
Ahmad, Teuku Puteh, Teuku Umar dan Teuku Musa. Di antara keempat anak ini yang
paling menonjol hanyalah teuku
umar.
Ketika rakyat VI Mukim di bawah
Uleebalang Nanta sedang tekun membangun daerahnya. Sultan Alaidin Muhammad Svah
wafat.Karena putra mahkota Sulaiman belum dewasa, maka Teuku Ibrahim sendiri
ditunjuk untuk memangku jabatan sultan. Ketika Teuku Ibrahim menjalankan tugas
dan pindah ke istana, Sulaiman yang masih kecil itu dititipkannya di VI Mukim
untuk dipelihara. Selanjutnya Teuku Ibrahim berusaha mencari dukungan pada
Panglima Polim untuk memperkuat kedudukannya. Tindakan Teuku Ibrahim ini tidak
disetujui oleh Nanta Muda Seutia. Ia melihat bahwa Panglima Polim mempunyai
tujuan tertentu seperti pada masa pemerintahan Sultan Alaidin Muhammad Syah.
Panglima Polim dari Sagi XXII Mukim pernah melakukan makar terhadap sultan.
Karena itu Nanta secara diam-diam mengadakan persekutuan dengan Teuku Baid dari
sagi XXII dan Teuku Ujung kepala Mukim Lamnga untuk mencegah maksud jahat Teuku
Ibrahim, Kemudian ia berusaha mencari dukungan lagi pada Abbas seorang ulama
terkenal dari Kota Karang dan Haji Said, seorang ulama dari Meuraksa.
Hubungan dengan para ulama ini sudah
terjalin akrab seperti saudara sendiri dan dinyatakan dalam suatu ikrar bahwa
mereka akan sehidup semati dalam menghadapi lawan politiknya. Demikianlah usaha
Nanta mendukung Sulaiman untuk menduduki tahta kesultanan.
Haji Said, sahabat karib Nanta, dengan
tiba-tiba ditikam seorang pemuda yang kurang waras dari Meuraksa tanpa sebab.
Keluarga Nek yang menjabat kepala pengadilan14' memutuskan perkaranya, mati
dibalas dengan mati. Dengan keputusan tersebut maka pemuda itu dijatuhi hukuman
mati pula. Demikian keputusan pengadilan itu. Akan tetapi keputusan ini tidak
bijaksana apabila dilakukan terhadap orang yang kurang waras. Karena itu pihak
Haji Said minta pertanggungjawaban kepada keluarga pemuda yang melakukan
penikaman itu. Demikian pula rakyat VI Mukim mendukung tuntutan Haji Said
Tetapi Nek dalam hal ini tetap kepada keputusan yang telah diberikan, sedang
rakyat di VI Mukim meminta agar ditegakkan kebenaran dan keadilan. Akibatnya
tak dapat dielakkan dan timbul ketegangan antara rakyat VI Mukim dan Meuraksa.
Maka timbullah perang saudara antara kedua daerah ini. Perang saudara ini tak
dapat diredakan. Masing-masing pihak mempertahankan pendiriannya. Dalam hal ini
dari pihak VI Mukim majulah Nanta untuk memimpin pasukan VI Mukim, sehingga
penyerangan makin hebat dan menimbulkan banyak korban di pihak rakyat Meuraksa.
Nanta terus mengadakan serangan, la belum puas atas kematian sahabatnya. Haji
Said.IM.Sultan sendiri dalam peristiwa ini tidak mau turun
tangan untuk mendamaikan kedua daerah ini. Maka permusuhan ke dua daerah ini
terus berkepanjangan tiada hentinya. Sultan menganggap hal ini tidak mengganggu
kestabilan politik dan kedudukannya sebagai penguasa.
Sementara itu rak\at VI Mukim terus
mengadakan ancaman dan tekanan terhadap Nek dan pendukungnya. Karena tekanan
dan desakan yang dilancarkan oleh rakyat VI Mukim, maka Nek merasa goyang dan
terancam kedudukannya. Karena itu Nek meletakkan jabatan. Kesempatan yang baik
ini dimanfaatkan oleh Nanta. Ia menduduki jabatan yang telah dilepas Nek.
Kedudukan Nanta makin kuat karena didukung oleh rakyat VI Mukim. Karena
kepemimpinan yang ditunjukkan Nanta, ia diangkat oleh rakyat menjadi
"potro".
Selanjutnya untuk menghadapi Meuraksa,
Nanta menyusun kekuatan dan membangun benteng-benteng yang kuat. Ketika rakyat
VI Mukim sedang sibuk dalam membangun benteng pertahanan di sepanjang Sungai
Ning dan Rawa Cangkul, sebagai daerah perbatasan dengan Meuraksa, maka lahirlah
Cut Nyak Din. Bertepatan dengan itu wilayah VI Mukim jatuh ke tangan Nanta
secara penuh.
Kelahiran Cut Nyak Din disambut oleh
rakyat VI Mukim dengan gembira. Rakyat naik turun ke rumah Nanta untuk
mengucapkan selamat atas kelahiran Cut Nyak Din. Sebagai rasa syukur Nanta
mengadakan selamatan dan mengundang rakyatnya. Dalam upacara ini (turun mandi)
diresmikanlah nama Cut Nyak Din di muka para hadirin yang diundang.
Dalam derap langkah pembangunan yang
terus berjalan di VI Mukim, Nanta terus mencurahkan kasih-sayangnya kepada Cut
Nyak Din.Pengharapan Nanta hanyalah Cut Nyak Din yang akan mewarisi
kedudukannya dan harta kekayaan yang dimilikinya. Karena itu ia sangat
memperhatikan Cut Nyak Din.
Kekayaan Nanta makin bertambah, karena
rakyat yang berada dalam wilayah kekuasaannya yang memiliki kebun lada. Sawah,cengkih, kelapa dan lain-lain diwajibkan memberikan
sebagian hasilnya pada waktu panen sebagai buah tangan. Karena kepemimpinan
Nanta yang baik, rakyat dengan ikhlas menyerahkan buah tangan (persembahan)
yang diwajibkan. Tidak seperti dalam masa pimpinan Teuku Nek, rakyat VI Mukim
selalu dikejar-kejar oleh paksaan dan tekanan berat, sehingga rakyat sangat
tertekan, sedang Nek hidup senang dari hasil keringat rakyat. Nasib rakyat
tidak dipikirkan.
Dalam mengatur perdagangan, Nanta menetapkan
danau yang terletak antara Tanjung dan Uleele sebagai pelabuhan. Ia mengatur
kapal dan perahu keluar masuk pelabuhan ini. Kapal-kapal ramai mengunjunginya
untuk membeli barang seperti beras, lada dan lain-lain, dan juga membawa barang
yang dibutuhkan rakyat seperti kain, barang pecah-belah dan barang yang lain.
Karena aman dan pengatur yang baik, banyaklah berdatangan pedagang asing dan
pedagang Aceh. Lntuk menguasai pelabuhan ini Nanta mengangkat seorang petugas.
Setiap kapal asing yang masuk pelabuhan dikenakan pungutan sebanyak 5%,
sedangkan kapal untuk orang Aceh dipungut sebanyak 21/2%.
Demikianlah semua penghasilan yang
diperoleh masuk ke dalam kas Nanta, termasuk buah tangan dari rakyat, bea cukai
dari setiap kapal masuk pelabuhan, sehingga ia menjadi uleebalang yang
kaya.Seperti dikemukakan di atas pertentangan rakyat VI Mukim dan Meuraksa
tiada berkesudahan. Karena pertentangan ini rakyat VI Mukim terus berjaga-jaga
pada benteng di perbatasan. Kampungkampung dipagar rapi dengan bambu. Pintu
gerbang dibuat dari kayu dan di tengah pintu gerbang ini ditancapkan sebuah
tonggak yang kokoh, sehingga tidak bebas orang keluar-masuk. Pada pintu gerbang
ini terdapat pos-penjagaan dan ditempatkan petugas secara bergilir untuk
mengawasi orang keluar-masuk tanpa diperiksa dengan membawa alat senjata,
tetapi bagi orang luar boleh masuk atau menginap apabila telah ada izin dari
para patugas. Para masafir diterima dengan ramah-tamah dan dilayani dengan
baik. Makan, minum dan tidur di tanggung selama berada di sana oleh penghuni
kampung tersebut, sedang pihak musuh yang sudah berdamai, apabila hendak
berkunjung terlebih dahulu diberitahukan kepada kepala kampung. Kepala kampung
akan menyongsongnya dengan satu tata cara, pedang terhunus di tangan kanan, dan
di sisi kirinya diikuti oleh satu barisan anak-anak. Pedang terhunus
melambangkan bahwa keselamatan si tamu berada dalam tangan kepala kampung,
sedang barisan anak berarti rakyat kampung tersebut menerima mereka dengan
ramah-tamah dan terbuka. Kemudian tamu tersebut dibawa ke rumah kepala kampung.
Seiring dengan pembangunan fisik,
berjalan pula pembangunan jiwanya. Syair agama makin diperluas dan dihayati
oleh rakyatnya, ibadah seperti meunasah dan mesjid menjadi perhatian. Rakyat
berbondong-bondong melakukan ibadat. Rakyat mendengarkan ceramah dan pengajian,
sesudah melakukan sembahyang pada malam hari dengan suara selawat dan zikir
memuji nabi dan kebesaran Tuhan yang menjadikan petala langit dan bumi.
Masyarakatnya menjadi penganut agama Islam yang taqwa dan patuh menjalankan
perintah agama, menjauhi larangan Tuhan. Ulama sangat memegang peranan penting
dalam pembangunan jiwa rak\at VI Mukim dan turut membina perkembangan dunia,
sehingga perkembangan dunia dan akhirat berjalan sejajar.
Seperti yang telah diutarakan di atas
Cut Nyak Din lahir ketika rakyat VI Mukim sedang giat membangun benteng
pertahanan untuk menghadapi Meuraksa. Perselisihan kedua wilayah ini terus
berlanjut. Masing-masing pihak menunjukkan kekuatan dan kekuasaan. Dalam
menghadapi situasi yang demikian meruncing, Nanta terus berusaha menegakkan
kekuasaannya. Wibawa dan namanya makin terpandang dalam rakyat VI Mukim. Ia
terus memperkokoh persatuan rakyat, sehingga kalau digerakkan ke luar akan
kelihatan kompak dan bersatu dalam menghadapi lawan. Demikian pula rakyat
merasa terlindung dan aman atas kepemimpinan yang dijalankannya, sehingga ia
merupakan seorang pemimpin yang disenangi rakyatnya dan disegani oleh lawan
karena bertanggungjawab penuh dan berani menghadapi segala kemungkinan.
Rumah Nanta di Lampadang ramai
dikunjungi oleh tokoh-tokoh penting untuk berurusan, membicarakan persoalan
yang sedang dihadapi dan menyampaikan berita-berita penting. Semua itu menjadi
perhatian Cut Nyak Din yang telah beranjak besar. Cut Nyak Din melihat dan
mendengar apa yang dibicarakan oleh tamu Nanta. Ia memahami bahwa ayahnya
adalah seorang terpandang dan penting.
Demikian pula Nanta, walaupun selalu
dalam kesibukan, namun tidak lupa kepada anak-istri. Ia meluangkan waktu untuk
bermain, bercerita kepada Cut Rayut dan Cut Nyak Din. Tidaklah dibedakan
kasih-sayangnya kepada kedua anaknya. Namun pengharapan satusatunya adalah Cut
Nyak Din.
Cut Nyak Din terus tumbuh bersama
pembangunan di VI Mukim sebagai setangkai bunga yang mekar di taman Lampadang.
Semua mata memperhatikan keelokan parasnya. Semua orang maniiai tingkah-laku
dan budi-pekertinya yang baik. Agaknya merupakan kebanggaan bagi Nanta, Cut
Nyak Din bagaikan mutiara yang akan memancarkan sinarnya dari rumah Nanta
Seutia, rumah Aceh yang kokoh, kokoh bagaikan adat tradisinya yang diwariskan
dari neneknya.
Pendidikan Cut Nyak Din secara resmi
tidaklah pernah diikutinya. Tetapi dari lingkungan kehidupannya dapatlah
kiranya ia memiliki ilmu yang berguna untuk hidupnya. Kiranya sebagai umat
Islam, tentu ia telah belajar mengaji Al-Qur'an, tulis baca dalam huruf Arab.
Dan banyak sedikitnya tentu ia tahu tentang hukum dan peraturan dalam agama
yang didengarnya dari ayah-ibunya. atau para ulama \ang memberikan pengajian di
meunasah atau mesjid. Pengetahuan tentang rumah-tangga telah didapatnya dari
ibunya yang mendidiknya, seperti masak-memasak, cara menghadapi suami dan
sebagainya tentu mendapat perhatian yang khusus. Apalagi Cut Nyak Din sebagai
anak uleebalang banyak sedikit akan terbawa cara hidup bangsawan. Kebiasaan demikian
akan terlatih dan terdidik dalam pergaulan, tata-cara menghadapi tamu.
penglihatan dan pendengaran dalam lingkungan hidupnya akan menambah ilmu
baginya.
Cut Nyak Din makin terkenal di wilayah
VI Mukim. Parasnya yang cantik menawan hati setiap pemuda, sehingga langkah dan
gerakina tidak lepas dari intaian pemuda di kampungnya. Tingkahlaku dan
tutur-katanya menarik perhatian orang tua dan menaruh minat untuk mengambilnya
sebagai menantu.
Di balik semua itu hati Nanta tidak
tentram, rasa keraguan dan kebimbangan untuk memilih calon menantunya, yaitu
suami Cut Nyak Din. Banyak sudah orang terpandang datang meminang Cut Nyak Din.
Kiranya belum ada yang sepadan dan cocok di hati Nanta. Nanta sangat teliti
memilih dan menyaring setiap orang yang bermaksud untuk melamar. Ia melihat
asal keturunan, meneliti latar belakang hidupnya dan menyelidiki lebih dalam
tentang tingkah-laku dan adatkebiasaannya. Ia mengharapkan pasangan Cut Nyak
Din seorang pemuda yang berdarah satria yang sejajar dengan darah keturunan Nanta
sendiri. Dalam harapan Nanta. Cut Nyak Din mendapat pasangan yang seimbang,
berdiri sama tegak, duduk sama rendah, sehingga kelak dapat melahirkan turunan
yang diharapkan untuk melanjutkan pimpinan wilayah VI Mukim. Karena itu Nanta
sangat berhati-hati untuk menentukan calon suami Cut Nyak Din.
Dari sekian banyak yang datang meminang,
yang diterima ialah lamaran dari Teuku Cik Ibrahim Lamnga.16' Teuku Cik Ibrahim
Lamnga adalah anak Teuku Abbas dari Ujung Aron. Teuku Abbas adalah seorang
uleebalang yang gagah-perkasa dan mempunyai kekuasaan yang luas dan meliputi
daerah pantai. Pangkat dan kedudukannya langsung diterima dari sultan Aceh.
Yang lebih menarik hati Nanta, bahwa Teuku Abbas pernah menjadi sekutunya dalam
menghadapi ketegangan antara VI Mukim dengan Meuraksa. Sedang Teuku Cik Ibrahim
Lamnga seorang pemuda yang taat pada agama dan berpandangan luas. Ia seorang
alim lepasan pendidikan agama dari Dayah Bitay. Karena itu tidak diragukan lagi
akan kebaikan budi dan bahasanya.
Karena umur Cut Nyak Din dirasa belum
cukup, atas permupakatan kedua belah pihak orang tua, antara Teuku Abbas dan
Nanta, dilakukanlah kawin gantung. Hal ini dilakukan untuk menghindari gangguan
terhadap Cut Nyak Din yang menjadi perhatian banyak pemuda. Dengan tali
pengikat yang telah dilakukan tersebut, berarti Cut Nyak Din telah mempunyai
calon dan Nanta merasa aman. Tinggal waktu peresmiannya saja.
Teuku Cik Ibrahim seminggu sekali datang
ke Lampadang untuk melihat calon istrinya, Cut Nyak Din. sambil membawa
oleh-oleh dari Teuku Abbas kepada Nanta, calon mertuanya. Perbuatan yang baik
ini terus dilakukan Teuku Cik Ibrahim Lamnga sampai perkawinannya dirayakan.
Dalam masa ini pula Cut Nyak Din terus mendapat bimbingan dan pengawasan dari
orang tuanya untuk memasuki jenjang rumah-tangganya kelak. Berkat bimbingan
yang terus-menerus, Cut Nyak Din dapat mengerti akan tugas dan kewajibannya
terhadap suami dan mengerti bagaimana mengatur rumah-tangga yang baik dan
harmonis.
Setelah umur Cut Nyak Din dirasa cukup,
yaitu kira-kira 12 tahun, tibalah saat peresmian pernikahannya. Nanta
mengeluarkan harta kekayaannya untuk memeriahkan pesta perkawinan Cut Nyak Din.
Rakyat di Lampadang sibuk menyiapkan semua yang diperlukan, sehingga rumah
Nanta kelihatan sibuk siang dan malam untuk menyambut perkawinan Cut Nyak Din.
Rakyat turut serta menyumbangkan tenaga dan harta ala kadarnya. Tokoh-tokoh
penting dan ulama-ulama tidak ketinggalan turut datang untuk mengucapkan kata
selamat kepada kedua mempelai.
Untuk lebih memeriahkan pernikahan itu.
Nanta mendatangkan penvair terkenal Dulkarim (Abdul Karim) untuk membawakan
syairnya di hadapan para undangan.17' Dengan Suara yang merdu Dulkarim
membawakan syairnya yang bernafaskan agama. Hikayat yang mengandung ajaran dan
tamsil ibarat sangat berguna bagi pegangan hidup, terutama bagi kedua mempelai.
Suara yang dikumandangkan Dulkarim dapat meresap ke hati hadirin dan merasa
puas; begitu juga Cut Nyak Din dan Teuku Cik Ibrahim Lamnga. Syair Dulkarim
merupakan tongkat pegangan untuk menempuh hidup baru.
Kemudian, setelah dianggap mampu
mengurus rumah tangga. Cut Nyak Din dan suaminya Teuku Cik Ibrahim pindah ke
tempat lain, ke rumah yang telah disediakan Nanta untuk mereka18' Rumah tangga
mereka berjalan baik dan cukup harmonis, karena antara suami-istri itu terjalin
saling pengertian. Teuku Cik Ibrahim yang berpandangan luas memberikan
bimbingan dan mencurahkan kasih-sayangnya.
Begitu pun Cut Nyak Din yang masih
kekanak-kanakan, secara pelanpelan dapat mengikuti bimbingan dan didikan
suaminya, sehingga rumah-tangga yang mereka bangun dapat berjalan aman dan
damai.
Masa-masa bahagia terus mereka lalui dan
nikmati dan kemudian menjadi kenyataan. Setelah setahun kemudian mereka
dianugrahi seorang anak. Tali perkawinannya makin kokoh. Suami-istri ini merasa
bahagia atas kehadiran anak mereka yang pertama. Cut Nyak Din menyibukkan diri
dalam mengurus dan merawat anakina. sedang Teuku Ibrahim terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya untuk anak dan istrinya.
BAB II
PERANAN WILAYAH VI MUKIM
DALAM PERANG ACEH
Perang Aceh meletus pada tahun 1873. Belanda telah
melakukan berbagai cara dan berusaha menduduki daerah itu. Pimpinannya telah
berganti-ganti dalam melancarkan serangan terhadap pertahanan Aceh yang terkenal
kuat." Pada tahun pertama serangan Belanda berhasil menduduki kraton dan
kemudian meluas ke daerah sekitarnya. Kemajuan yang mereka peroleh ditunjang
oleh alat senjata yang jauh lebih moderen daripada senjata yang dimiliki oleh
orang Aceh. Belanda mendapat dorongan yang kuat oleh keinginan untuk meluaskan
wilayah kekuasaannya. Dengan menguasai Aceh berarti pintu masuk ke Indonesia
akan dikuasai pula.
Melihat Kraton Aceh jatuh ke tangan Belanda, rakyat
Aceh bangun secara meluas memberikan perlawanan. Semua golongan serta lapisan
masyarakat turut aktif bergerak menurut kemampuan dan tenaganya. Para pemimpin,
panglima dan uleebalang sibuk menyusun dan mengatur kekuatannya. Rakyat siap
menyumbangkan jiwa dan hartanya. Prajurit siap tempur untuk mempertahankan
tanah-air, bangsa dan agama. Para ulama tampil di mimbar mengobarkan semangat
jihad ßsabilillah dan kemudian maju bersama rakyat dengan pedang terhunus untuk
melawan musuh. Semangat juang rakyat makin tinggi. Gema perang sabil yang
dikumandangkan para ulama menjalar ke setiap pelosok tanah Aceh, baik di kota,
kampung dan bahkan di hutan belantara. Laki-laki dan
perempuan bahu-membahu merapatkan barisan untuk memberikan perlawanan terhadap
penjajah Belanda.
Suara ulama terus bergema dari meunasah dan mesjid
sebagai motor penggerak membangkitkan semangat untuk maju ke meda perang.
Rakyat VI Mukim di bawah pimpinan Nanta terus disibukkan oleh kegiatan perang.
Rumah Nanta sebagai markas terus dikunjungi oleh para utusan dan tokoh-tokoh
untuk membicarakan situasi yang dihadapi, Nanta terus bergiat dan membangun
benteng-benteng pertahanan, menyusun kekuatan untuk mempertahankan wilayahnya.
Kemudian ia mengumpulkan perbekalan perang dan tenaga untuk dikirim ke garis
depan.
Teuku Cik Ibrahim Lamnga, suami Cut Nyak Din terus
berada di garis depan untuk memimpin pasukannya. Ia tinggalkan anak-istrinya di
Lampadang sampai berbulan-bulan lamanya demi perjuangan untuk membela
tanah-air.Di meunasah dan masjid orang tua sampai larut malam mengadakan ratib
dan doa untuk keselamatan anak-anakn\a yang berangkat ke garis depan.
Demikianlah tingkah-laku dan kesibukkan rakyat VI Mukim dalam menghadapi
keadaan perang. Semua kegiatan yang dilakukan Nanta, keaktifan Teuku Cik
Ibrahim di garis depan dan kesibukkan rakyat VI Mukim terus diamati dengan
seksama oleh Cut Nyak Din. Betapa resahnya rakyat menurut penglihatannya. Dalam
situasi yang demikian ia sangat mengharapkan kedatangan suaminya untuk
mendampinginya.Untuk melepaskan rindunya ia mendendangkan lagu sambil
membuaikan anaknya dengan svair yang bernafaskan agama dan perjuangan sebagai
berikut :
Hai buyung
Hai anakku sayang
laki-laki engkau
Ayahmu, datamu laki-laki pula
Perlihatkan/ah kejantananmu
Orang Kafir hendak menjajah kita
Hendak mengganti agama kita dengan agamanya.
agama kafir
Budi akalmu Dengan seada tenagamu
Pertahankanlah hak kita orang Aceh
Pertahankanlah agama kita, agama Islam
Wahai anakku
Turutlah jejak ayahmu Teuku Cik Ibrahim Lamnga
Sekarang ia tidak di rumah
Tetapi janganlah engkau menyangka
Bahwa ayahmu sedang bersuka-ria melepas hawa
nafsu
Tidak Teuku
Ayahmu sedang mengumpulkan kawan
Buat menyambut kedatangan kafir
Dan akan mengusirnya ke luar tanah Aceh.
Ketika suaminya pulang ke Lampadang, Cut Nyak Din
selalu menanyakan keadaan di garis depan, kekuatan Teuku Cik Ibrahim dan
situasi yang dihadapi oleh pejuang-pejuang Aceh. Cut Nyak Din melihat kejatuhan
kraton ke tangan Belanda karena kelemahan sultan dalam memimpin. Ia
mendengarkan bahwa masih banyak penglima yang gagah berani untuk memimpin
pasukan, kenapakah sultan begitu lemah membiarkan tanah Aceh dijajah oleh
Belanda. Teuku Cik Ibrahim dengan bijaksana memberikan penjelasan bahwa sultan
sedang mempersiapkan kekuatan yang dipimpin oleh Tuanku Hasyim dan Panglima
Polim. Dengan demikian Cut Nyak Din dapat mengerti, karena disangkanya kekuatan
sultan telah lumpuh sama sekali.
Sedang kekuatan lain, Ulama Teuku Cik Di Tiro
Muhamad Saman dari daerah Pidie bangkit bersama pengikutnya untuk memberikan
perlawanan yang gigih terhadap Belanda. Semangat jihad terus dikobarkan di
kalangan rakyat, sehingga perlawanan untuk mempertahankan hak meluas menjadi
perang suci untuk mempertahankan agama Islam.
Ketika Habib Abdurahman kembali dari Turki dalam
usaha Aceh mencari bantuan perlengkapan, ia menyatukan diri kembali dengan
kekuatan Aceh untuk melawan Belanda." Habib berhasil mendekati para ulama
di Tiro, Pidie, karena ia melihat para ulama memegang peranan
penting dan menjadi kepercayaan untuk menggerakkan rakyat. Dalam waktu singkat
Habib dapat menghimpun kekuatan rakyat untuk mengumpulkan harta-benda dari
rakyat yang akan dipergunakan bagi kepentingan perang. Tetapi kegiatan yang
dilakukan oleh Habib Abdurahman di dalam kalangan rakyat Aceh menimbulkan dua
golongan yaitu golongan yang setuju dan yang tidak setuju. Golongan bangsawan
yang masih setia kepada sultan, kelihatan kurang menyetujui tindakan yang
dilakukan oleh Habib. Mereka belum yakin sepenuhnya akan kesungguhan Habib,
apalagi Habib telah ditugaskan untuk mencari senjata ke luar negeri, tetapi
boleh dikatakan mengalami kegagalan. Sedang pihak lain mendukung sepenuhnya
gagasan Habib, karena yang didengungkan mendapat tanggapan yang serius.
Dari kedua kelompok ini dapat dilihat pengikut dan
pendukungnya :
Golongan
ini dibentuk oleh Sultan dan diikuti oleh pengikutnya yang setia. Anggota
pendukungnya antara lain Syahbandar Tebang. Imam Mesjid Baiturrahim, Teuku
Kadhi, Teuku Nek dan Nanta Sutia Raja. rakyat Nanta merupakan pendukung utama.
Golongan ini adalah pendukung gagasan
Habib Abdurahman. sedang anggota pendukungnya antara lain Panglima Polim, Teuku
Baid dan Imam Long Bata.
Demikian gambaran rakyat Aceh ketika
Habib melibatkan diri dalam kegiatan melawan Belanda. Golongan bangsawan
menuduh Habib ingin merebut kedudukan sultan, karena ia telah berhasil
mendampingi sultan dalam menjalankan pemerintahan.
Kegiatan yang dilakukan Habib Abdurahman
di wilayah VI Mukim tidak mendapat dukungan yang sungguh dari rakyat Nanta.
Nanta menolak pemungutan yang dilakukan oleh petugas Habib. Hal ini disebabkan
Nanta merasa rakyatnya telah cukup menderita selama Perang
Aceh berlangsung. Karena itu hendaknva jangan lagi dibebani pungutan yang
memberatkan rakyat.
Begitu juga Cut Nyak Din belum melihat
kekuatan Habib yang dapat diandalkan untuk menghadapi kekuatan Belanda, la
lebih meyakini kekuatan Teuku Cik Ibrahim yang terdiri atas 200 orang tentara
yang terlatih. Mereka ahli dalam menggunakan alat senjata, berani dan tangkas
di medan perang.
Sementara itu Habib Abdurahman terus
mengadakan serangan gencar terhadap pos dan benteng Belanda. Serangan yang
dilakukan pasukan Habib dengan gemilang dapat merebut beberapa daerah yang
telah diduduki oleh Belanda. Habib dapat menunjukkan pada rakyat Aceh bahwa ia
berjuang sungguh-sungguh untuk menegakkan hak dan mengusir Belanda. Tetapi
kemenangan itu tidak lama dinikmati, karena Belanda melakukan serangan balasan.
Kedudukan Habib menjadi terjepit. Muntasik jatuh kembali ke tangan Belanda dan
Long Bata tak dapat dipertahankan.
Karena serangan balasan yang dilancarkan
oleh Belanda, maka kedudukan VI Mukim menjadi genting. Daerah itu berada dalam
ancaman Belanda. Rakyat VI Mukim di bawah Nanta mempersiapkan diri secara
kompak. Benteng pertahanan telah dipersiapkan. Nanta sibuk mengatur semua
persiapkan untuk menghadapi serangan Belanda. Di daerah perbatasan antara VI
Mukim dan Meuraksa telah dipersiapkan sebuah pasukan yang kuat01 karena di
Meuraksa Belanda telah menempatkan kekuatannya dengan 2 pucuk meriam yang siap
memuntahkan pelurunya ke wilayah VI Mukim. Di benteng pertahanan sepanjang
Sungai Ning dan Rawacangkul ditempatkan pasukan Nanta yang terpilih.
Dalam menghadapi serangan Belanda ini
rumah Cut Nyak Din di Lampadang dijadikan markas. Pertemuan untuk mengadakan
persiapan dilakukan oleh Nanta dan Teuku Cik Ibrahim dengan Teuku Along, Teuku
Bait, Teuku Purba, saudara Panglima Polim, Pimpinan VII Mukim dan IX Mukim.
Mereka merundingkan taktik dan cara menghadapi Belanda dan benteng mana yang
harus diperkuat. Menurut pendapat Teuku Cik Ibrahim Lamnga, taktik yang dipakai
oleh Belanda sama dengan taktik yang mereka pakai untuk
merebut kraton. Belanda akan menyerang dari Meuraksa dan akan menyerang VI
Mukim dari arah utara." Dari gambaran ini Teuku Cik Ibrahim mengusulkan
supaya benteng-benteng yang terletak di bagian utara lebih diperkuat. Setelah
usul ini diterima, diputus pula tempat berkumpul, yakni di mesjid dan Kuta
Karang. Maka dipersiapkan 1000 orang tentara untuk menghadapi serangan Belanda.
Setelah selesai perudingan ini, mereka mengadakan sembahyang bersama dan
dilanjutkan dengan doa untuk keselamatan bersama.
Teuku Cik Ibrahim terus bergerak ke garis
perbatasan VI Mukim dan Meuraksa untuk meninjau dan mengatur strategi
pertahanan. Benteng-benteng yang ditinjau oleh Teuku Cik Ibrahim antara lain
Geunca, Keutapang Dua, Wilayah IX Mukim Teuku Purba dan wilayah III Mukim Daray
Long Raya. Setelah semuanya beres, Teuku Cik Ibrahim menyerahkan komando
pimpinan kepada Nyak Man. Sebagai wakilnya ditunjuk N>ak Ajat.8' Teuku Cik
Ibrahim terus bergerak untuk menambah kekuatan. Ia terus berkeliling sampai
lama tidak pulang ke Lampadang. Sambil berjalan ia berusaha mengetuk hati para
hartawan untuk mengeluarkan hartanya yang sangat dibutuhkan dalam kepentingan
perang.
Ketika Teuku Cik Ibrahim pulang ke
Lampadang melihat anakistrinya dan melaporkan situasi perbatasan kepada Nanta.
datang berita bahwa pasukan Belanda telah bergerak ke arah selatan menuju
wilayah IX Mukim dan patroli ini sudah pasti akan memasuki wilayah VI Mukim.
Wilayah ini merupakan jalur perjalanan yang pasti dilalui, karena terletak di
bagian barat laut wilayah IX Mukim Nek Purba. Berita ini cepat menjalar
dikalangan rakyat VI Mukim. Rakyat gelisah dan sibuk mempersiapkan diri. Teuku
Cik Ibrahim memperintahkan kepada semua rakyat supaya anak dan kaum ibu siap
untuk mengungsi. Harta yang tak dapat dibawa sebaiknya ditinggalkan.
Bapak-bapak dan pemuda supaya mempersiapkan diri untuk memperkuat barisan
pertahanan wilayah VI Mukim. Teuku Cik Ibrahim terus bergerak dengan pasukannya
ke wiyalah IX Mukim untuk menangkis serangan Belanda. Nanta ernian pasukannya
terus berserak ke arah Meuraksa.
Pada tanggal 28 Desember 1875 atas perintah Teuku
Cik Ibrahim Lamnga. Cut Nyak Din beserta anak dan ibun\a meninggalkan Lampadang
menuju pengungsian." Betapa berat rasa hati Cut Nya Din meninggalkan
kampung halaman dan berpisah dengan suami, tetapi karena keadaan memaksa dan
panggilan tanah-air, ia memenuhi perintah suaminya dan rela meninggalkan semua
kesenangan. Ketika hendak menuju pengungsian timbul suatu pertanyaan dalam
hatinya," kapankah aku kembali dan kapankan aku bertemu dengan suami yang
tercinta?"
Cut Nyak Din mengungsi dengan rakyat dan untuk
pengiringnya Teuku Cik Ibrahim menugaskan 70 orang pengawal untuk membawa semua
perlengkapan yang dibutuhkan dalam pengungsian. Rombongan ini bergerak menuju
Lamtengah, kemudian meneruskan perjalanan ke Lampagar. Rakyat Lampagar tidak
merasa aman menerima rombongan ini. Mereka merasa khawatir daerahnya menjadi
sasaran penyerangan Belanda. Karena itu sesudah melepas lelah sejenak rombongan
meneruskan perjalanan ke Leumpeng. dengan melalui Bukit Perang dan turun ke
Beleng Kala. Rombongan selamat sampai di VI Mukim. Perjalanan yang melelahkan;
pindah dari tempat ke tempat lain yang dirasa aman terus dilakukan Cut Nyak Din
untuk menyelamatkan diri dari intaian tentara Belanda. Sungguh suatu pengalaman
pahit yang dirasakan oleh Cut Nyak Din dalam pengungsian, karena dengan
tibatiba datang berita bahwa Belanda akan menyerang tempat pengungsian mereka.
Mereka terpaksa mencari tempat perlindungan, menyingkir ke tempat yang tidak
diketahui.
Karena perasaan yang selalu dikejar-kejar musuh,
kehidupan Cut Nyak Din tidak teratur. Perlengkapan dan persediaan makin
menipis. Perjalanan ini rupanya menambah keyakinan dan kepercayaan Cut Nyak Din
akan dirinya, bahwa perjuangan harus mengalami penderitaan. Dengan hati yang
tabah dan tekad bulat Cut Nyak Din menerima semua cobaan itu. Kemudian apa yang
dirasakan oleh Cut Nyak Din menjelma menjadi suatu kekuatan dalam hatinya dan
kekuatan itu terus tumbuh untuk memberikan perlawanan kepada musuh. Rasa benci
pada musuh makin tebal dan tumbuh menjalar.
Oleh sebab itu ia mengirim utusan kepada suaminya
supaya jangan mundur setapak pun, maju terus melawan musuh, doa selamat akan
tetap mengiringnya. Itulah pesan Cut Nyak Din.
Telah sekian lama Cut Nyak Din tak bertemu dengan
Teuku Cik Ibrahim, sedang Teuku Cik Ibrahim terus mencurahkan tenaga dan
pikirannya untuk mempertahankan wilayah VI Mukim bersama-sama pejuang Aceh
lainnya dari serangan dan gempuran tentara Belanda.
Pada tanggal 29 Desember 1875 setelah rombongan Cut
Nyak Din meninggalkan Lampadang, pasukan Belanda dengan kekuatan cukup besar
dan persenjataan yang lengkap di bawah pimpinan F T. Engel mulai mengadakan
serangan terhadap daerah sekitar VI Mukim. Kemudian Belanda melancarkan
serangan terhadap Lamjamu dan Ajun. Serangan tersebut disambut oleh pasukan
Teuku Cik Ibrahim dengan mengerahkan tenaga yang ada. Karena desakan tentara
Belanda yang kuat, Teuku Cik Ibrahim berusaha menghindari korban banyak di
kalangan rakyat. Maka diperintahkannya supaya anak-anak dan ibuibu menghindar
ke Lam Asam. Pasukan tempur terus bertahan pada benteng-benteng yang telah
dipersiapkan. Pasukan Belanda terus maju menekan
pertahanan Teuku Cik Ibrahim di bawah lindungan tembakan pasukan meriamnya.
Karena tembakan yang terus-menerus dilepaskan menuju sasarannya, api mulai
berkobar menjilat rumah-rumah penduduk. Dalam sekejap api berkobar memusnahkan
kampung dan harta-benda yang ditinggalkan rakyat. Di bawah kepulan asap dan
tembakan gencar tentara Belanda. Teuku Cik Ibrahim mengundurkan pasukannya ke
Lam Asam. Rakyat Lam Asam menjadi sibuk mengurusi para pengungsi dan merawat
yang luka dalam pertempuran di Lamjamu. Karena itu Teuku Cik Ibrahim
memerintahkan agar yang luka diungsikan ke Lamtengah dan Lam pagar. Tetapi
rakyat Lampagar yang dicekam rasa ketakutan tidak bersedia menampung arus
pengungsi yang banyak ini. Lampadang dan Peukan Bada menjadi sepi, rakyatnya
telah mengungsi. Tinggal para pejuang untuk mempertahankan benteng Nanta di
Lampadang.
Pada tanggal 30 Desember 1875 pasukan Belanda terus
melaju Simpang Lima, kemudian melancarkan serangan ke Lam Asam. Dalam serangan
ini tentara Belanda melakukan kekejaman dengan menembak rakyat
vang tidak bersalah, membakar habis rumah-rumah rakvat. Rakvat yang selamat
menghindar dari arena pertempuran. Harta-benda habis dimakan api, hewan
berkeliaran tidak terurus. Pada tanggal 31 Desember 1875 Belanda dapat
menduduki Lam Asam. Kemudian mereka melanjutkan penyerangan mereka ke Lampadang
dan dengan mudah tentara Belanda menduduki Peukan Bada.
Demikianlah, setelah pertempuran berlangsung selama
tiga hari. kampung-kampung di wilayah VI Mukim jatuh ke tangan Belanda.Pasukan
Nanta dan Teuku Cik Ibrahim mundur ke lereng bukit untuk mencari tempat
berlindung Kemudian mereka menyusun kembali sisa kekuatannya. Pada tanggal 2
Januari 1876 Teuku Cik Ibrahim melakukan serangan balasan dengan mengarahkan
sasarannya pada kemah tentara Belanda. Ketika menjelang fajar Teuku Cik Ibrahim
menarik pasukannya kembali ke lereng bukit Demikianlah dilakukan Teuku Cik Ibrahim
beberapa waktu lamanya, sehingga tentara Belanda tidak merasa aman pada waktu
malam hari. Pada waktu siang hari pasukan Teuku Cik Ibrahim mundur dan
istirahat di sela-sela bukit dengan aman. Karena membawa hasil, kemudian Teuku
Cik Ibrahim menunggu datangnya patroli Belanda pada tempat yang strategis yang
diperkirakan akan dilalui partroli Belanda.
Telah berbagai taktik dan cara dilakukan Teuku Cik
Ibrahim untuk memukul Belanda. Oleh karena itu ia terus menjadi kejaran patroli
Belanda. Ia terus berpindah-pindah tempat dan kadang-kadang menghilangkan
jejak. Kemudian ia muncul lagi dengan pasukannya mengadakan penyerangan
terhadap pos atau kemah patroli Belanda.
Habib Abdurahman yang bermarkas di Muntasik terus
berusaha menyatukan pejuang Aceh. Kepentingan perang telah dapat dilengkapi.
Pasukan tempur telah diatur dan siap untuk melakukan tugas. Paritparit
pertahanan di Muntasik telah siap dibuat dan tenaga tempur tersedia sebanyak
2000 orang. Pasukan ini akan diberangkatkan ke Krung Raba, ibukota IV Mukim.
Sebelum bergerak ke Krung Raba pasukan Habib telah
menyerang kota selama 6 jam. Serangan ini cukup menggelisahkan pasukan
pendudukan Belanda di Kotaraja, karena kemah pegawai Belanda terbakar habis
oleh tembakan yang gencar dari pasukan Habib. Kemudian mereka melanjutkan
perjalanan ke IV Mukim. Kepala IV Mukim melarikan diri dan minta bantuan kepada
Belanda.
Nanta dan Teuku Cik Ibrahim yang telah menyingkir
dari IV Mukim menggabungkan diri dengan pasukan Habib dan kemudian keduanya
diangkat menjadi panglima."1 Untuk kerjasama dalam menghadapi kekuatan
Belanda, Teuku Cik Ibrahim telah dapat mengatur beberapa pasukan untuk bertugas
pada daerah yang telah ditentukan.
Teuku Rayut, saudara Cut Nyak Din, dengan kekuatan
1600 orang bertugas mempertahankan daerah Leupeng dan mempertahankan pantai
selatan dari serangan Belanda. Teuku Nanta telah membawa pasukannya mendekati
Peukan Bada. Pasukan Imam Long Bata dengan 400 orang telah siap menunggu di
Sala Glee Tarum. Di Biang Kota pasukan pengungsi telah siap berjaga-jaga di
bawah pimpinan Ayat dan Ibrahim. Sedang Teuku Cik Ibrahim telah siap dengan
kekuatan 200 orang terlatih menunggu di pintu masuk Ngalau Ngarai Beradin.
Pasukan Ibrahim bertugas untuk mencegat pasukan Belanda vang akan bergerak ke
daerah IV Mukim yang telah diduduki Habib.
Panglima tentara Belanda di Kotaraja Van der Heyden
menvadari bahaya vang akan mengancam kedudukann>a oleh kekuatan Aceh yang
bergerak serentak ini. Karena itu ia berusaha mengirimkan pasukannya untuk
menggagalkan maksud penyerangan pejuang Aceh. Sehubungan dengan itu
diberangkatkan sepasukan tentara Belanda untuk merebut kembali daerah IV Mukim
yang telah diduduki oleh pasukan Habib Abdurahman. Pasukan ini bergerak melalui
Ngalau Ngarai Beradin. Ketika tiba di pintu masuk Ngalau Ngarai Beradin turun
hujan dengan lebatnya, sehingga agak sukar melewati lembah ini. Daerah ini
digenangi air setinggi pinggang. Dengan susah-payah tentara Belanda
menyeberangi daerah banjir tersebut. Ketika itu pula pasukan Teuku Cik Ibrahim
melepaskan tembakan dari lereng bukit yang mengapit
lembah itu. Tembakan yang gencar ini menghilangkan semangat tentara Belanda
untuk meneruskan perjalanan mereka, tetapi dengan disiplin yang tinggi komandan
pasukan membangun kembali serangan balasan. Dengan bergerak serentak secara
pelan-pelan tentara Belanda terus maju di bawah perlindungan tembakan senjata
modern mereka. Demikianlah maka pertahanan Teuku Cik Ibrahim satu persatu dapat
dilumpuhkan. Pasukan Teuku Cik Ibrahim mundur ke lereng bukit sekitarnya.
Pasukan Belanda terus maju dengan meninggalkan korban yang banyak. Mereka
melanjutkan perjalanan mereka ke daerah IV Mukim. Habib yang telah menduduki IV
Mukim tidak dapat menangkis serangan ini. la dapat meloloskan diri dari
kepungan tentara Belanda. Kemudian dengan beberapa orang pengikutnya yang setia
ia menyingkir ke Sela Glee Tarum. Hal ini menjadi suatu pertanyaan bagi pejuang
Aceh, karena setelah menyingkir ia tidak mengadakan kontak dengan pejuang lain
yang telah mendukungnya, la tidak mengadakan kegiatan apapun. Melihat sikap
yang demikian kepercayaan rakyat pada Habib menjadi goyah.
Pada tanggal 29 Juni 1878 pasukan Belanda terus
bergerak ke Sela Glee Tarum untuk mengikuti jejak Habib Abdurahman. Ketika
tentara Belanda hendak masuk ke Sela Glee Tarum mereka dicegat oleh Pasukan
Imam Long Bata. Kontak senjata terjadi antara kedua pasukan. Pertemuan
berlangsung seru. Korban sudah berjatuhan, tetapi pertempuran terus
berlangsung. Pasukan Imam Long Bata terus memberikan pukulan terhadap Belanda,
sehingga pasukan tentara Belanda terpaksa mundur dan terus dikejar oleh Pasukan
Imam Long Bata sampai ke daratan IX Mukim.
Sementara itu Teuku Cik Ibrahim dan Nyak Man setelah gagal menahan patroli Belanda di Ngalau Ngarai Beradin terus berusaha mengadakan kontak dengan Habib Abdurahman. Dengan susah-payah Teuku Cik Ibrahim mendaki gunung Madat di Pegunungan Parang selama tiga hari tiga malam tanpa istirahat dan pada hari keempat tenaganya sudah hampir habis. Tidak sesuap nasi pun mereka dapat ':' Atas anjuran Nyak Man, Teuku Cik Ibrahim meninggalkan tempat tersebut. Kemudian secara diam-diam mereka meneruskan perjalanan mereka menuju Sela Glee Tarum. Setelah melepaskan lelah satu malam, mereka berusaha mengadakan kontak dengan Habib
Abdurahman. Tetapi hal ini amat sulit. Mereka tidak menemukan jejak Habib dan rombongannya bersembunyi. Karena Badan makin letih dan kepayahan. Rombongan Teuku Cik Ibrahim tertidur. Ketika itu pula pasukan tentara yang terus mengikuti jejaknya mengadakan kepungan yang rapi dan terencana. Pengikut Teuku Cik Ibrahim terkejut dan cerai-berai oleh tembakan gencar tentara Belanda. Tentara Belanda dapat menewaskan Teuku Ajat, adik Teuku Cik Ibrahim. Ia tertembak tepat pada kepalanya. Melihat hal ini Teuku Cik Ibrahim cepat memberi bantuan. Ia sempat memangku kepala adiknya di bawah desingan peluru tentara Belanda yang terus mencari sasaran. Sementara itu Teuku Nyak Man yang sempat menghindar berteriak dari balik akar besar kepada Teuku Cik Ibrahim supaya menghindar. Tetapi dengan satria dan setia ia ingin menyelamatkan Teuku Nyak Man. Berbarengan dengan itu sebuah peluru yang dilepaskan tentara Belanda mengenai kepalanya dan secepat itu pula Teuku Nyak Man memberikan pertolongan. Tetapi rupanya sudah sampai janji Tuhan. Ia pun mengalami nasib yang sama. tewas oleh peluru Belanda. Gugurlah ketiga patriot itu sebagai syuhada dalam membela tanah-air. bangsa dan agama. Tetapi suatu keajaiban terjadi. Ketika tentara Belanda hendak membawa ketiga syuhada ini, hati mereka terasa berat, seolah-olah ada yang mendorong mereka untuk tidak membawanya. Karena itu mereka tinggalkan ketiga jenazah itu di tempat itu dan memberi kesempatan pada rekan dan keluarganya untuk melihatnya sebagai kesempatan terakhir.
Sementara itu Teuku Cik Ibrahim dan Nyak Man setelah gagal menahan patroli Belanda di Ngalau Ngarai Beradin terus berusaha mengadakan kontak dengan Habib Abdurahman. Dengan susah-payah Teuku Cik Ibrahim mendaki gunung Madat di Pegunungan Parang selama tiga hari tiga malam tanpa istirahat dan pada hari keempat tenaganya sudah hampir habis. Tidak sesuap nasi pun mereka dapat ':' Atas anjuran Nyak Man, Teuku Cik Ibrahim meninggalkan tempat tersebut. Kemudian secara diam-diam mereka meneruskan perjalanan mereka menuju Sela Glee Tarum. Setelah melepaskan lelah satu malam, mereka berusaha mengadakan kontak dengan Habib
Abdurahman. Tetapi hal ini amat sulit. Mereka tidak menemukan jejak Habib dan rombongannya bersembunyi. Karena Badan makin letih dan kepayahan. Rombongan Teuku Cik Ibrahim tertidur. Ketika itu pula pasukan tentara yang terus mengikuti jejaknya mengadakan kepungan yang rapi dan terencana. Pengikut Teuku Cik Ibrahim terkejut dan cerai-berai oleh tembakan gencar tentara Belanda. Tentara Belanda dapat menewaskan Teuku Ajat, adik Teuku Cik Ibrahim. Ia tertembak tepat pada kepalanya. Melihat hal ini Teuku Cik Ibrahim cepat memberi bantuan. Ia sempat memangku kepala adiknya di bawah desingan peluru tentara Belanda yang terus mencari sasaran. Sementara itu Teuku Nyak Man yang sempat menghindar berteriak dari balik akar besar kepada Teuku Cik Ibrahim supaya menghindar. Tetapi dengan satria dan setia ia ingin menyelamatkan Teuku Nyak Man. Berbarengan dengan itu sebuah peluru yang dilepaskan tentara Belanda mengenai kepalanya dan secepat itu pula Teuku Nyak Man memberikan pertolongan. Tetapi rupanya sudah sampai janji Tuhan. Ia pun mengalami nasib yang sama. tewas oleh peluru Belanda. Gugurlah ketiga patriot itu sebagai syuhada dalam membela tanah-air. bangsa dan agama. Tetapi suatu keajaiban terjadi. Ketika tentara Belanda hendak membawa ketiga syuhada ini, hati mereka terasa berat, seolah-olah ada yang mendorong mereka untuk tidak membawanya. Karena itu mereka tinggalkan ketiga jenazah itu di tempat itu dan memberi kesempatan pada rekan dan keluarganya untuk melihatnya sebagai kesempatan terakhir.
Setelah tembakan berhenti, suasana menjadi sepi.
Tentara Belanda meninggalkan daerah itu dengan membawa kemenangan. Rekan-rekan
Teuku Cik Ibrahim datang memberikan penghormatan terakhir kepada pimpinannva
yang telah gugur Rekan-rekannya secara bergantian mengusung jenazah Teuku Cik
Ibrahim melalui Bukit Mahdam sampai ke Leupung. Setiap kampung yang dilalui,
rakyat turut memberikan penghormatan dan banyak yang meneteskan air mata. Imam
Banta tak sabar melihat usungan ini. ia menangis seperti anak kecil yang
membuat suasana lebih mengharukan. Demikianlah suasana men>ambut kedatangan
para syuhada ini penuh dengan ratap-tangis tiada berkeputusan. Pengharapan
menjadi patah, panglima yang diharap telah tiada. Niscaya akan patahlah
perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda.
Cut Nyak Din tak dapat menguasai dirinya. Telah
sekian lama ia berpisah dengan Teuku Cik Ibrahim. Tiba-tiba suami tercinta
datang diusung dan telah tidak bernyawa. Dunianya menjadi gelap, hilang bumi
tempat berpijak, putus tali tempat bergantung. Ia duduk bersimpuh menatap
suaminya. Tangis makin menjadi, "Kenapakah kau tinggalkan kami, siapakah
penggantimu untuk meneruskan perjuangan yang panjang ini?" Ratap tangis
Cut Nyak Din membuat hati yang hadir semakin luluh. Melihat ini Teuku Nanta
yang bijaksana berusaha menyabarkan hati anaknya. Jangan kautangisi dia.
bukankah ia telah berbakti kepada tanah-air dan agama. Kini ia telah syahid,
kita juga akan mengikuti jejaknya. Setiap manusia akan mati. Sabarlah
menghadapi cobaan ini. Teguhkan iman dan bulatkan tekad. Pada pundak kitalah
terletak tanggung-jawab yang berat ini. Tetapi tangis Cut Nyak Din makin
menjadi. Kala itu walau kata seindah apa pun tak dapat membendung air matanya
dan tangan selembut sutra pun takkan mempan untuk membelainya. Ia tumpahkan
semua isi hatinya untuk merapati Teuku Cik Ibrahim Lamnga.
Atas permufakatan para tokoh dan uleebalang, Teuku
Cik Ibrahim Lamnga dimakamkan di Muntasik. Tempat ini dianggap aman dan jauh
dari jangkauan musuh seperti yang dikehendaki keluarga. Rakyat kembali
mengiringi jenazah ini berjalan. Dengan melalui Gunung Mandam barulah sampai ke
Muntasik. Rakyat Muntasik telah siap menyambut dengan hormat kehadiran jenazah
Teuku Cik Ibrahim Lamnga. Kemudian dengan upacara yang sederhana dan khidmat
Teuku Cik Ibrahim Lamnga dimakamkan dengan disaksikan rakyat yang mencintainya.
Tempat ini adalah suci, sesuci perjuangan Teuku Cik Ibrahim Lamnga.
Tangis Cut Nyak Din telah mereda, kabut sedih yang
menyelubungi berangsur-angsur dihembus angin harapan dan menyadari apa arti
semuanya itu. Hanya suatu beban berat yang masih terasa dalam hatinya, ia
seorang wanita, anak masih kecil. Ayahnya, yakni Nanta semakin tua, jalan yang
ditempuh masih jauh. Siapa gerangan orang kuat yang dapat menggantikan Teuku
Cik Ibrahim untuk meneruskan perjuangan? Dari semua soal yang pasti sebagai
suatu kekuatan yang dahsyat untuk mendorong dirinya, yaitu maju meneruskan
perjuangan. Dan melahirkan sumpah setia bahwa semasih hayat dikandung badan
akan meneruskan perlawanan terhadap Belanda. Ia akan menurut balas kematian
suaminya.
Sementara itu pada tanggal 13 Oktober 1878 Habib
Abdurahman secara resmi menyerah kepada Belanda. Ia beserta pengikutnya pada
pukul dua siang menghadap Gurbernur Aceh Van der Heyden di Kutaraja,13' Sebagai
penghormatan, ia disambut oleh Belanda dengan tujuh dentuman meriam. Pada
tanggal 24 Nopember tahun itu juga ia berangkat ke Jeddah dan ia mendapat
tunjangan dari Belanda sebesar
12.000 dollar setiap tahun.
12.000 dollar setiap tahun.
Menyerahnya Habib menjadi pembicaraan rakyat Aceh.
Banyak orang berpendapat bahwa syahidnya Teuku Cik Ibrahim Lamnga adalah karena
penghianatan yang dilakukan Habib. Setelah Krang Raba jatuh, ia tidak lagi
mempunyai rencana untuk melanjutkan perlawanan terhadap Belanda. Hal ini
kiranya dapat dibuktikan betapa susah-payahnya Teuku Cik
Ibrahim untuk menghubunginya. Namun sia-sia belaka. Karena itu tuduhan orang
menyatakan bahwa Habiblah vang menyuruh tentara Belanda untuk menjebak pasukan
Teuku Cik Ibrahim yang kekuatannya telah hilang.Cut
Nyak Din dapat memaklumi semua pembicaraan orang banyak, hatinya belum yakin
benar akan perbuatan yang terkutut itu Menurut pengamatannya dasar perjuangan
Habib yang digembargemborkan selama ia hadir dalam barisan Aceh adalah agama,
seperti pernyataan yang disampaikannya kepada Teuku Cik di Tiro Muhammad Saman.
Cik di Tiro adalah seorang ulama yang terpandang dan menpunyai wibawa yang
besar. Semua itu hanva fitnah dalam pikiran Cut Nyak Din. Hal ini hanya
memecah-belah persatuan yang akan menguntungkan pihak musuh.
PATAH HATI dan TUMBUH
PERLAWANAN RAKYAT ACEH
Sebulan kemudian setelah Teuku Cik Ibrahim
dimakamkan. Cut Nyak Din belum habis menghilang kesedihannya, datanglah Teuku
Umar ke Muntasik dalam rangka kunjungan keluarga sebagai anak kepada orang tua.
Dan yang paling penting kedatangan Teuku Umar adalah untuk membicarakan situasi
yang dihadapi rakyat Aceh. Kelihatan perlawanan rakyat terhadap Belanda semakin
kendor dan tak terkordinasi dengan baik. Teuku Umar menyatakan kekhawatirannya
kepada Nanta bahwa telah banyak pejuang Aceh yang dapat diandalkan gugur
sebagai syuhada di medan perang. Ia sebagai orang muda, sangat mengharapkan
bantuan dan petunjuk dari Nanta sebagai orang tua yang telah banyak
berpengalaman. Kiranya Nanta dapat memberikan nasihat dan saran-saran untuk
melanjutkan perjuangan yang sedang dihadapi.
Kehadiran Teuku Umar di Muntasik membawa angin baru dalam keluarga Nanta dan menambah kekuatan baru dalam barisan perlawanan rakyat Aceh. Cut Nyak Din yang telah merasakan cobaan pahit dalam hidupnya dapat membaca bahwa Teuku Umar yang lebih muda sedikit mempunyai kemauan yang keras dan memiliki sifat kepemimpinan seperti yang diwariskan oleh kakaknya, Makhdun Sati." Karena itu Cut Nyak Din sangat mengharapkan Teuku Umar dan tepatlah kiranya jika Teuku Umar tampil ke depan untuk memimpin barisan yang kelihatan semakin mundur.
Kehadiran Teuku Umar di Muntasik membawa angin baru dalam keluarga Nanta dan menambah kekuatan baru dalam barisan perlawanan rakyat Aceh. Cut Nyak Din yang telah merasakan cobaan pahit dalam hidupnya dapat membaca bahwa Teuku Umar yang lebih muda sedikit mempunyai kemauan yang keras dan memiliki sifat kepemimpinan seperti yang diwariskan oleh kakaknya, Makhdun Sati." Karena itu Cut Nyak Din sangat mengharapkan Teuku Umar dan tepatlah kiranya jika Teuku Umar tampil ke depan untuk memimpin barisan yang kelihatan semakin mundur.
Sambil merenungi nasibnya, Cut Nyak Din melihat
bahwa perpecahan antara pemuka dan tokoh-Aceh makin gawat keadaannya. Hasut
fitnah makin menjadi, masing-masing pihak sedang memperhitungkan rugi dan laba
yang tidak terlepas dari sifat kebendaan dalam menghadapi peperangan.
Sabilillah yang digemborgemborkan para ulama telah kelihatan suram oleh
kemunduran. Banyak pemuka yang mementingkan diri sendiri dan tidak mengindahkan
lagi tujuan dan cita-cita pejuangan yang murni. Cut Nyak Din dapat melihat dan
merasakan sendiri, setelah Teuku Cik Ibrahim Lamnga gugur, banyak di antara
pejuang-pejuang Aceh yang turun atau menyerah kepada Belanda. Kemudian yang
sangat menyakitkan hati, mereka itu ikut bekerjasama dengan pihak musuh untuk
turut memberantas perjuangan rakyat Aceh. Iman mereka boleh dikatakan semakin
tipis. Mereka terpesona oleh rayuan manis pihak musuh. Musuh dengan berbagai
cara mencari keuntungan dan berusaha melemahkan barisan perlawanan rakyat Aceh.
Memikirkan semua itu hati Cut Nyak Din semakin resah. Dalam suasana yang
demikian ini, ia sangat mendambakan suatu ketenangan jiwa, seorang teman yang
setia. Siapakah gerangan yang dapat memberikan dukungan terhadap cita-citanya
untuk meneruskan perjuangan? Siapakah kiranya dapat mendampinginya sebagai
kawan setia? Ia akan menyerahkan jiwa dan raganya untuk mengikuti jejak
langkahnya, tetapi dengan syarat dan pernyataan yang kongkrit. bahwa ia sanggup
dan bersedia membawa rakyat Aceh ke dalam gelanggang perjuangan menentang
penjajahan Belanda. Sekurang-kurangnya orang itu dapat diajak sebagai kawan
bertukar pikiran untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi.
Kesempatan yang baik ini dimanfaatkan oleh Teuku
Umar untuk menyampaikan maksudnya. Setelah ia berada di Muntasik, dan setelah
melihat Cut Nyak Din dari dekat, lahirlah dalam hatinya suatu penilaian yang
istimewa terhadap Cut Nyak Din. la mengagumi sifat satria yang dimiliki Cut
Nyak Din. Cut Nyak Din adalah seorang wanita yang agung dan bijaksana. Yang
paling patut dipuji ialah bahwa Cut Nyak Din seorang yang tabah, sabar dalam
menghadapi berbagai cobaan. Yang Patut dihargai ialah bahwa ia mempunvai
cita-cita yang murni, yaitu ingin meneruskan perjuangan melawan penjajah
Belanda.
Karena itulah Teuku Umar memberanikan diri untuk
menyampaikan maksudnya untuk memperistri Cut Nyak Din kepada Nanta.
Maksud baik ini diterima oleh Nanta dengan senang hati. Dan tergambarlah di
depamu a bahwa apabila jadi suami-istri, maka citacita perjuangan vang
tersimpan dalam dadanya akan dapat diteruskan. Begitu juga Cut Nyak Din, demi
melanjutkan perjuangan ia bersedia menjadi istri Teuku Umar.
Setelah ada persetujuan kedua belah pihak, maka
dilangsungkanlah pernikahan di Muntasik. Perkawinan ini dihadiri oleh rakyat
dan tokoh penting dengan suatu upacara yang sederhana tetapi cukup
meriah". Rakyat di Muntasik sangat gembira menyambut perkawinan ini.
Mereka sangat mengharapkan pimpinan pasangan ini untuk melanjutkan perjuangan.
Ucapan selamat dan do'a berdatangan untuk keselamatan perkawinan mereka. Doa
dipanjatkan pula semoga pasangan ini dapat bahu-membahu dalam memimpin
perjuangan.
Teuku Umar yang telah menggantikan kedudukan Teuku
Cik Ibrahim Lamnga, bertekad untuk menjadi suami yang setia dan akan meneruskan
perjuangan Teuku Ibrahim Lamnga mengusir Belanda yang telah menduduki wilayah
VI Mukim. Cahaya gelap yang menyelubungi kehidupan Cut Nyak
Din kembali bersinar membawa pengharapan. Hatinya semakin teguh untuk
meneruskan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Teuku Umar adalah seorang
pemuda vang diharapkan oleh Cut Nyak Din, setelah Teuku Cik Ibrahim Lamnga
gugur. Karena itu ia terus meyakinkan Teuku Umar supaya jangan
ragu, maju terus merebut tanah Aceh yang telah dikuasai Belanda.
Pernikahan Teuku Umar dan Cut Nyak Din terdengar
juga oleh pemerintah Belanda di Kotaraja. Mereka menyadari bahwa kedua orang
ini merupakan saingan berat, terutama di VI Mukim. Uleebalang yang telah
memihak kepada Belanda merasa kecut hatinya untuk menghadapi kedua tokoh yang
terkenal ini.
Sebelum Teuku Umar sampai ke Aceh Besar, yaitu
ketika ia di Aceh Barat, ia tidaklah menjadi perhatian benar. Selama itu ia
adalah seorang pemuda yang senang bertualang. Tetapi setelah sampai di Aceh
Besar, ia ikut menggabungkan diri dengan para pejuang Aceh. Mula-mula ia kawin
dengan Nyak Sopiah anak uleebalang Geufumpang. Namanya makin terkenal setelah
kawin dengan Nyak Mahligai, anak Panglima Sagi XXV Mukim. Nama Teuku
Umar makin terkenal baik dalam barisan pejuang Aceh maupun di mata Belanda,
karena sikap dan pembawaannya yang keras.5' Dalam menghadapi Belanda, Teuku
Umar mempunyai konsep tersendiri. Taktik dan siasatnya yang dijalankannya
kiranya cukup berat bagi Belanda untuk menandinginya.
Demikianlah setelah Teuku Umar melangsungkan
perkawinannya dengan Cut Nyak Din, ia tidak tinggal lama di Muntasik. la terus
berangkat ke garis depan untuk memimpin pasukan.
Cut Nyak Din yang selama ini dalam kegelisahan,
dengan hadirnya Teuku Umar menjadi teguh kembali. Tekadnya makin bulat untuk
melawan penjajah Belanda. Genderang perang yang hampir mereda, kini bergemuruh
kembali. Harapan bangkit, la terus mendorong Teuku Umar maju ke depan sebagai
pengganti Teuku Cik Ibrahim Lamnga yang telah gugur. Teuku Umar menjadi
satu-satunya tumpuan harapan untuk bisa kembali merebut wilayah VI Mukim
khususnya dan mengusir penjajah Belanda dari seluruh tanah Aceh.
Sementara itu dalam akhir Desember 1878 Van der
Heyden terus giat melancarkan pembersihan terhadap perlawanan rakyat Aceh.'1'
Teuku Baid yang gagah-perkasa, dengan mati-matian mempertahankan rumahnya dari
kepungan tentara Belanda. Alasan Belanda mengepung rumah tersebut, ialah bahwa
Teuku Baid menyembunyikan pejuangpejuang Aceh yang luka dalam rumahnya. Dalam
kepungan yang ketat ini ia dapat tertawan. Kemudian Teuku Baid diasingkan oleh
Belanda.
Muntasik yang selama ini aman, jatuh ke tangan
Belanda. Kepala mukimnya menyerah. Rumah-rumah dibakar habis. Cut Nyak Din
beserta rombongan mencari tempat yang aman, yang jauh dari jangkauan tentara
Belanda. Selanjutnya dengan gemilang Van der Heyden dapat merebut Aneuk Galong,
Lampase dan Sibereh. Semua benteng pertahanan Aceh dihancurkan. Mesjid
Indrapuri setelah dipertahankan dengan gigih, jatuh pula ke tangan Belanda.
Imam Long Bata terus menyingkir ke Seulemum. Aksi tentara Van der Heyden terus
dilancarkan dengan membakar Mesjid Jeruk dan Mesjid Garut serta kampungnya.
Pusat kekuatan Panglima Polim di Glieng yang dipimpin
oleh anaknya, Muda Kuala, yang diperlengkapi dengan 24 pucuk meriam jatuh pula
ke tangan Belanda. Tentara Belanda bergerak ke Sagi XVI.7' Setelah semua daerah
tersebut dapat dikuasai oleh Belanda, Perang Aceh dianggap sudah selesai dan
selanjutnya mereka mencurahkan perhatian pada pembangunan pemerintahan.
Pada masa ini Pemerintah Belanda mencurahkan
perhatiannya kepada Aceh Besar. Untuk melancarkan sarana komunikasi di darat,
Pemerintah Belanda membangun jalan, terutama perhubungan antara daerah yang
dianggap penting oleh Belanda. Pembuatan jalan ini dari kota ke kota dan
diteruskan masuk ke kampung. Begitu juga jalan kereta api antara Kutaraja dan
Uleele diresmikan oleh Pemerintah Belanda. Untuk menarik hati rakyat Aceh,
Pemerintah Belanda mendirikan sekolah untuk anak-anak uleebalang yang telah
memihak kepada Belanda. Dalam waktu yang singkat pengaruh Belanda telah terasa
dalam kehidupan rakyat kota.
Wilayah VI Mukim yang telah ditinggalkan Nanta
terkena dalam rencana pembukaan jalan. Jalan Kotaraja - Uleele diteruskan ke
wilayah VI Mukim memasuki kampung-kampung yang dilanjutkan ke arah Ngalau
Beradin.
Untuk memenuhi tenaga kerja, rakyat VI Mukim dipaksa
bekerja sebagai kewajiban rakyat kepada pemerintah, siapa yang tidak patuh akan
ditindak dengan hukuman yang berat. Karena itu biarpun dalam hati menolak,
rakyat terpaksa bekerja untuk kepentingan Belanda. Dengan terbukanva
jalan-jalan ini patroli Belanda lebih mudah dan lebih cepat bergerak. Suatu
keuntungan yang tak disadari, roda pembangunan di wilayah VI Mukim makin
lancar. Rakvat dengan bebas bergerak untuk memenuhi kebutuhannya. Perdagangan
meningkat ramai. Rakyat VI Mukim menjadi makmur. Sejalan dengan itu masuk pula
ke desa dan kampung wilayah VI Mukim pedagang-pedagang Cina.s' Makin ramailah
pedagang keluar-masuk ke wilayah VI Mukim.
Tetapi yang merisaukan rakyat VI Mukim ialah karena
pem erintah Belanda mengangkat Teuku Nek menjadi uleebalang sebagai
pimpinannya. Rakyat yang tidak menyenangi Nek, selalu merindu kan Teuku Nanta.
Teuku Nek hidup mewah di atas keringat rakyat, la merupakan sumber
perpecahan dan pertengkaran antara rakyat VI Mukim. Untuk menarik simpati
rakyat Aceh, Pemerintah Belanda menjanjikan untuk membangun kembali Mesjid
Baiturrahim di Muntasik, sebagai ganti mesjid yang telah mereka hancurkan. Para
pejuang yang masih tetap setia pada sultan, terus aktif bergerak mengadakan
perlawanan. Mereka mengadakan sabotase dan penyergapan pada pos-pos tentara
Belanda. Setelah Indraputri jatuh, sultan dan pengikutnya memindahkan pusat
pertahanannya ke daerah Pidie. Karena desakan yang terus dilancarkan oleh
tentara Belanda, maka sultan memindahkan pusat kedudukannya ke Keumala.
Keumala merupakan tempat yang aman untuk berkumpul
para tokoh-tokoh Aceh. Dari daerah inilah sultan Aceh menjalankan pemerintahan
dan menyampaikan perintah kepada seluruh pejuang Aceh. Sementara Sultan Muhamad
Daud belum dewasa, pimpinan pemerintahan dipegang oleh Mangkubumi Tuanku Hasyim
Bangta Muda. Pimpinan lainnya antara lain Panglima Polim, Imam Long Bata,
Nanta, Cut Nyak Din dan Teuku Umar terus mengadakan perlawanan di daerah
masing-masing.
Atas dorongan Cut Nyak Din, Teuku Umar kembali
menyusun kekuatan yang telah terpecah-pecah setelah gugurnya Teuku Cik Ibrahim
Lamnga. Tujuan mereka yang utama adalah untuk merebut wilayah VI Mukim. Cut
Nyak Din sangat merindukan kampung halamannya, karena telah tujuh tahun
ditinggalkan. Yang paling menyakitkan hatinya ialah bahwa wilayah VI Mukirn
telah kembali diserahkan Belanda kepada Teuku Nek. Karena itulah Teuku Umar
bertekad untuk merebut kembali wilayah tersebut. Dengan demikian Cut Nyak Din
dan Nanta akan dapat kembali ke wilayah VI Mukim sebagai penguasa.
Setelah Teuku Umar merasa kuat. Ia menggerakkan
pasukannya yang cukup besar jumlahnya. Ia dibantu oleh Teuku Nyak Makam, adik
Teuku Cik Ibrahim Lamnga. Dengan gerak cepat melalui Ngaraingarai Beradin
pasukan Teuku Umar dapat menduduki sebahagian daerah kekuasaan Nanta. Kedatangan
pasukan tersebut disambut gembira oleh rakyat VI Mukim. Rakyat mendukung
perjuangan Teuku Umar. Tanpa diajak, banyak pemuda-pemudanya ikut menggabungkan
diri ke dalam barisan Teuku Umar.
Tetapi Teuku Nek yang telah merasakan nikmatnya
hidup di bawah Pemerintah Belanda, tentu saja merasa tidak senang atas
kedatangan Umar dengan balatentaranya untuk menduduki Sungai Ning dan kemudian
minta bantuan pada majikannya untuk mengusir pasukan Teuku Umar. Teuku Umar
tidak tinggal diam, ia terus menyusun dan mengatur benteng-benteng pertahanan.
Kedatangan tentara Belanda dengan bantuan Teuku Nek disambut dengan perlawanan
yang seru oleh pasukan Teuku Umar. Pasukan Teuku Umar terus memukul mundur
serangan tentara Belanda. Tentara Belanda terpaksa mundur untuk meminta bala
bantuan.
Sementara itu kekuatan Teuku Umar di bawah pimpinan
Nyak Hasan terus melancarkan serangan yang berat terhadap Pantai Putih.
Serangan yang terus-menerus ini, menyebabkan Belanda terpaksa mengosongkan
daerah Krung Raba dan kemudian dikuasai oleh Teuku Umar. Di samping itu Belanda
sedang menghadapi perlawanan rakyat Aceh di daerah Pidie. Oleh sebab itu untuk
merebut kembali daerah yang telah dikuasai Teuku Umar terpaksa didatangkan bala
bantuan dari Sumatra Barat.
Tetapi ketika menghadapi kekuatan Belanda yang lebih
besar. Teuku Umar mengubah taktik, la memperhitungkan kekuatan musuh yang
diperlengkapi dengan senjata moderen dan tidak sebanding dengan kekuatan yang
dimilikinya. Karena itu ia menarik pasukannya mundur ke Ngalau Ngarai Beradin.
Kemudian pada waktu malam ia mengganggu pos-pos Belanda yang berjumlah
kecil."1 Demikianlah terus dilakukan Teuku Umar dalam waktu lama. sehingga
kedudukan Belanda di wilayah VI Mukim tidak aman. Karena serangan yang
terus-menerus dilakukan oleh Teuku Umar, Belanda membakar kampung-kampung yang
memberi bantuan kepada Teuku Umar.
Pada front lain, yaitu di daerah Pidie Belanda
terpaksa memeras tenaga untuk menahan serangan yang dilancarkan oleh Tengku Cik
Di Tiro Muhamad Saman. Benteng Belanda telah beberapa kali mendapat serangan
hebat. Untuk mengatasi hal ini, Belanda mengawasi dengan ketat pengiriman beras
dan bahan keperluan lain melalui Pidie. Maksudnya supaya tidak diangkut ke Aceh
Besar untuk keperluan para pejuang Aceh. Kemudian Belanda membersihkan daerah
dan kubu pertahanan Teuku Cik Di Tiro yang tersebar luas di seluruh daerah
Pidie. Tetapi langkah pembersihan yang dilakukan oleh Belanda dapat dipatahkan
oleh kekuatan Cik Di Tiro dalam suatu pertempuran di Garut.
Pada tahun 1884 Sultan Muhamad Daud Syah telah
dewasa. Berkat bimbingan Tuanku Hasyim Banta Muda dan dukungan Teuku Cik Di
Tiro, baginda dapat aktif menjalankan tugas sebagai sultan Aceh.13'
Kedudukannya tetap dipertahankan di Keumala. Baginda memerintahkan kepada
seluruh rakyat di seluruh pelosok tanah Aceh supaya terus bergerak untuk
mengadakan perlawanan. Dengan datangnya perintah dari sultan, rakyat Aceh
bangkit serentak. Semangat yang telah hilang menyala kembali dan berkobar untuk
memberikan perlawanan terhadap penjajah Belanda.
Menghadapi reaksi baru ini Belanda menyadari, bahwa
untuk menghadapi perlawanan ini diperlukan tenaga dan biaya yang tidak sedikit,
sedangkan selama perang berjalan tenaga Belanda telah habis terkuras. Biaya
yang dikeluarkan oleh Pemerintah Belanda telah jutaan jumlahnya. Karena itu
Pemerintah Belanda mengubah taktik dan siasatnya. Dalam mempertahankan
kedudukannya di Aceh. Mereka memusatkan kekuatannya pada daerah yang telah
dikuasai penuh saja. Untuk ini daerah sekitar Kotaraja dibuat Lini
konsentrasi.'4| Pos-pos penjagaan dibuat dalam lini konsentrasi dan dihubungkan
satu sama lain.
Pembangunan lini konsentrasi dimulai dari utara
dekat Kota Pahana (bekas benteng Portugis) melengkung ke selatan melalui Sagi
XXVI, kemudian terus melengkung ke barat melalui daerah IX Mukim, terus
memotong VI Mukim dan Meuraksa sampai ke Sabang (bekas benteng Nanta).
Pembuatan lini konsentrasi ini mengakibatkan daerah VI Mukim, Meuraksa, Lamteh,
Lamjamu, Lampadang, dan Rawacangkul termasuk ke dalam wilayah kekuasaan
Belanda. Jalan menuju laut telah putus dan daerah Long Bata yang telah kosong
ikut terkurung dalam lini konsentrasi itu. Peukan Bada menjadi sepi, rakyatnya
telah pindah untuk mencari penghidupan baru di Uleelheue.
Taktik baru yang dijalankan oleh Pemerintah Belanda
memberi kesempatan dan ruang gerak pejuang Aceh untuk bebas bergerak. Cut Nyak
Din dan Teuku Umar memanfaatkan situasivini untuk kembali ke wilayah VI Mukim.
Karena Lampadang telah termasuk ke dalam wilayah lini konsentrasi, mereka
memutuskan untuk tinggal di Lampisang. Ketika dalam perjalanan Cut Nyak Din dan
Cut Gambang, anak Cut Nyak Din dari Teuku Umar yang lahir dalam pengungsian,
naik keatas usungan dengan diiringi sepasukan pengawal yang setia. Perjalanan
ini kembali melalui Ngalau Ngarai Beradin. Cut Nyak Din melihat keadaannya sama
dengan sembilan tahun yang lalu, yaitu ketika ia tinggalkan tempat itu bersama
Teuku Cik Ibrahim Lamnga. la menceritakan semuanya itu kepada anaknya, Cut
Gambang. Ketika rombongan makin dekat ke tempat yang dituju hatinya teringat
kembali ke masa lalu, masa yang pernah dirasakannya ketika bersama Teuku Cik
Ibrahim, suami yang sangat dicintainya, tetapi kini telah "tidur"di
Muntasik untuk selama-lamanya.
Rakyat VI Mukim sangat gembira menyambut kedatangan rombongan Cut Nyak Din dan Nanta.'" Kepemimpinan Nanta sangat rakyat harapkan. Kecintaan dan kesetiaan rakyat tetap. utuh. Tetapi Nanta kelihatan sudah semakin tua. Tenaganya sudah terkikis habis untuk melakukan perjuangan dan matanya telah menjadi rabun.
Rakyat VI Mukim sangat gembira menyambut kedatangan rombongan Cut Nyak Din dan Nanta.'" Kepemimpinan Nanta sangat rakyat harapkan. Kecintaan dan kesetiaan rakyat tetap. utuh. Tetapi Nanta kelihatan sudah semakin tua. Tenaganya sudah terkikis habis untuk melakukan perjuangan dan matanya telah menjadi rabun.
Untuk memperkuat kedudukan Nanta, dengan dukungan
rakyat Cut Rayut diangkat menjadi uleebalang pengganti Nanta. Agar jangan
dicurigai Belanda diusahakan surat pengangkatan Cut Rayut dari Pemerintah
Belanda. Pada mulanya pemerintah menolak, karena daerah ini di luar lini konsentrasi.
Tetapi dengan berbagai usaha rakyat Nanta mengangkat Cut Rayut sebagai
kamuflase saja, sedang yang memegang kunci dalam hal ini adalah Cut Nyak
Din.'bl Dengan diangkatnya Cut Rayut sebagai, uleebalang. Cut Nyak Din akan
bebas bergerak menjalankan politik dalam perjuangan Aceh dan hal ini tidak
mencurigakan Pemerintah Belanda.
Cut Nyak Din kembali membangun rumah tangganya
dengan Teuku Umar di Lampisang. Nanta yang semakin lemah itu dirawat oleh Cut
Nyak Din dengan penuh kasih sayang. Orang tua ini mempunyai pikiran yang
cemerlang dalam pemikiran jalannya perjuangan dan
namanya masih disegani oleh rakyat dan ditakuti oleh musuh. Demikianlah darma
bhakti Cut Nyak Din pada orang tuanya. Nanta.
Setelah Cut Nyak Din merasa kuat kedudukannya, rumah
tangga sudah terbina dengan baik, rakyat tetap menyenanginya dan tetap setia
serta mendukung semua gagasan yang dicetuskannya. Mulailah Cut Nyak Din
mengadakan kegiatan dalam perjuangan. Rumahnya di Lampisang tersedia untuk
dijadikan markas pertemuan para tokoh pejuang dan alim ulama yang terus
mengobarkan semangat jihad fisabilillah.171 Hubungan yang baik telah terjalin
dengan Teuku Cik Di Tiro, ulama yang terkenal itu. la sangat gigih mencurahkan
. tenaga dan fikiran untuk perjuangan. Karena itu menurut Cut Nyak Din, cara
yang paling baik untuk melanjutkan perjuangan adalah mendukung sepenuhnya
cita-cita dan gagasan yang dicetuskan oleh Teuku Cik Di Tiro. Karena itu pula
Teuku Cik Di Tiro sangat mengharapkan Cut Nyak Din menjadi teman yang baik dan
dapat menggerakkan seluruh rakyat VI Mukim.
Tokoh lain yang patut diperkenalkan dan menjadi
sahabat Cut Nyak Din adalah Tengku Fakinah.'81 Tengku Fakinah adalah seorang,
ulama yang mempunyai cita-cita yang sama dengan Cut Nyak Din. la juga gigih
menentang penjajahan Belanda. Nasibnya hampir sama dengan Cut Nyak Din.
Suaminya, Tengku Ahmad, tewas dalam medan perang ketika membendung serangan
Belanda yang pertama di Pantai Cermin.191 Karena suaminya tewas, maka Tengku
Fakinah menghimpun kekuatan di daerahnya, yakni Lamdiran. Kemudian ia mencari
dukungan dan berusaha mengajak rakyat Aceh untuk memanggul senjata. Dalam
penilaiannya Cut Nyak Din adalah seorang tokoh yang patut didukung dan
diberikan bantuan sepenuhnya. Oleh karena itu persahabatan mereka sangat akrab,
demi perjuangan dan demi mendukung cita-cita untuk perjuangan bangsa, negara
dan agama.
Tetapi Teuku Umar berbeda jalan fikirannya dengan Cut Nyak Din., la tidak menyetujui jalan yang ditempuh oleh Cut Nyak Din. la berpandangan lain terhadap para ulama. Teuku Umar beranggapan bahwa kaum ulama tidak dapat bekerja sama dengan golongan bangsawan. Dalam beberapa hal Teuku Umar berbeda pendapat dengan Teuku Cik Di Tiro. leuku Umar berpendapat bahwa jalan kemenangan akan dapat diperoleh apabila kita dapat mempelajari taktik perang musuh. Artinya, kalau boleh, demi kemenangan kita harus mendekati musuh. Dengan demikian kita lebih tahu dan mengenal lebih jauh semua seluk-beluk tentang mereka. Teuku Cik Di Tiro ingin menempuh jalan singkat. Perang terus atau mati, mati sahid.20) Karena itulah maka seakan-akan ada jurang pemisah yang dalam antara kedua tokoh ini. Itulah sebabnya Teuku Umar melarang Cut Nyak Din bergaul dengan kaum ulama, la menghendaki supaya Cut Nyak Din lebih baik bergaul dengan golongan bangsawan yang sejajar tingkat dan kedudukannya.
Tetapi Teuku Umar berbeda jalan fikirannya dengan Cut Nyak Din., la tidak menyetujui jalan yang ditempuh oleh Cut Nyak Din. la berpandangan lain terhadap para ulama. Teuku Umar beranggapan bahwa kaum ulama tidak dapat bekerja sama dengan golongan bangsawan. Dalam beberapa hal Teuku Umar berbeda pendapat dengan Teuku Cik Di Tiro. leuku Umar berpendapat bahwa jalan kemenangan akan dapat diperoleh apabila kita dapat mempelajari taktik perang musuh. Artinya, kalau boleh, demi kemenangan kita harus mendekati musuh. Dengan demikian kita lebih tahu dan mengenal lebih jauh semua seluk-beluk tentang mereka. Teuku Cik Di Tiro ingin menempuh jalan singkat. Perang terus atau mati, mati sahid.20) Karena itulah maka seakan-akan ada jurang pemisah yang dalam antara kedua tokoh ini. Itulah sebabnya Teuku Umar melarang Cut Nyak Din bergaul dengan kaum ulama, la menghendaki supaya Cut Nyak Din lebih baik bergaul dengan golongan bangsawan yang sejajar tingkat dan kedudukannya.
Cut Nyak Din yang bijaksana dapat memahami maksud
Teuku Umar. Tetapi dengan lemah-lembut ia mencoba memberi gambaran kepada Teuku
Umar, bahwa perjuangan yang dihadapi sekarang ini, bukanlah tugas bangsawan
yang mempunyai kedudukan, tetapi tugas berat ini berada dalam pundak rakyat
Aceh seluruhnya. Tidak pandang bulu, termasuk di dalamnya ulama, bangsawan dan
rakyat banyak Kalau ia mengesampingkan ulama, berarti ia tidak mengikutsertakan
sebagian rakyat Aceh untuk berjuang. Adalah merupakan suatu ketimpangan kalau
golongan bangsawan dan para uleebalang saja yang bergerak tanpa didukung oleh
rakyatn>a secara kompak Hal ini sudah pasti tidak akan membawa hasil.
Demikian pula ulama sangat memegang peranan, sebab semenjak berdirinya Kerajaan
Aceh dan masa jayanya Aceh, ulama adalah suatu komponen yang penting. Oleh
sebab itu kuranglah bijaksana apabila bersikap menjauhkan diri dari ulama. Dan
apa yang ia tempuh selama ini, itulah jalan yang tepat. Kiranya apa yang sudah
ia paparkan itu dapat menjadi pemikiran tuanku.
Demikianlah akhirnya timbul perselisihan pendapat
antara Cut Nyak Din dengan Teuku Umar dalam meneru kan cita-cita perjuangan.
Tetapi sebagai istri yang baik. Cut Nyak Dhien tetap mencintai
Teuku Umar. Ia tetap menunjukkan keseti tan dan kasih-sayang
yang sepantasnya. Melihat sikap dan pendirian leuku Umar yang keras. Cut Nyak
Din tak dapat berbuat apa-apa. la pasrah saja setelah menyampaikan
saran-sarannya kepada Teuku Umar. Walaupun demikian ia terus mengikuti
gerak-gerik Teuku Umar. Ia akan melihat apa yang dilakukan suaminya, walaupun
dalam hati kecilnya ia tidak menyetujui langkah yang ditempuh Teuku Umar.
Cut Nyak Din terus melakukan kegiatan di Lampisang.
meyakinkan rakyat VI Mukim bahwa perjuangan melawan Belanda adalah kewajiban
bersama. Oleh sebab itu jangan mundur, terus tingkatkan kewaspadaan dan
siap-siaga. Penjajahan Belanda harus diusir dari bumi Aceh yang tercinta.
Dengan persatuan yang kokoh kejayaan Aceh dapat ditegakkan kembali.
Pada bulan Nopember 1883 kapal Inggris, Nesisero,
terdampar di Pantai Tenom. Teuku Imam Muda Raja Tenom menyita isi kapal
tersebut. Biarpun telah mengirim kapal perang untuk membebaskan temannya, usaha
Inggris dan Belanda tidak berhasil. Pada bulan Juli 1884 atas permintaan Gubernur
Aceh Loging Tobias, Teuku Umar berangkat ke Meulaboh dengan kapal Belanda untuk
menyelesaikan masalah ini. Dengan bantuan uleebalang setempat Teuku Umar menuju
ke daerah Tenom. Tetapi dalam perjalanan pulang timbul perselisihan antara
komandan kapal dengan Teuku Umar. Demi keselamatan, komandan kapal menghendaki
supaya pasukan Teuku Umar menyerahkan senjatanya. Permintaan ini dipenuhi oleh
Teuku Umar dengan perjanjian setelah sampai di Tambesi senjata ini akan
dikembalikan. Tetapi ketika Teuku Umar turun hendak menemui kepala Lam besi,
anak buahnya melakukan penyerangan terhadap awak kapal tersebut. Peristiwa ini
memang sangat disesalkan oleh Teuku Umar, tetapi ia tidak bertindak terhadap
anak buahnya.
Sesudah peristiwa tersebut Teuku Umar kembali ke
Lampisang dan ia tidak mau bekerja sama dengan Belanda. Karena itu Belanda
menarik kekuatannya dari daerah VI Mukim. Kemudian Teuku Umar kembali bersatu
dengan pejuang Aceh. Tetapi pihak Aceh belum yakin akan tekad baik Teuku Umar.
Persoalan kapal Nesisero baru dapat diselesaikan setelah Belanda membayar
tebusan sebesar 100.000 dollar kepada raja Tenom.
Pada tanggal 14 Juni 1886 Teuku Umar kembali
mengadakan serangan terhadap kapal Hok Canton, sebuah kapal yang berbendera
Inggris. Kapal tersebut sedang berlabuh di Pantai Rigaih untuk membeli lada dan juga untuk menjual senjata gelap.
Nakhodanya, Hansen, berkebangsaan Denmark. Teuku Umar mencurigai gerakgerik
nakhoda tersebut. Ia mencurigai kedatangan orang tersebut dan ingin
menangkapnya dan selanjutnya menyerahkannya kepada Belanda dengan upah sebanyak
25.000 dollar. Dengan taktik yang telah diatur. Teuku Umar naik ke kapal untuk
membeli senjata. Kemudian ia diikuti oleh anak buahnya. Ketika semua anak
buahnya sudah naik, ia memberi komando untuk menyerang. Terjadilah perang
tanding. Anak buah Teuku Umar beraksi dengan pedang dan rencongnya. Awak kapal
sia-sia bertahan karena satu demi satu mereka jatuh di ujung senjata anak buah
Teuku Umar. Pertempuran berakhir setelah Hansen dapat ditawan. Kemudian Hansen
beserta istrinya, dan jurumudi Faya menjadi tawanan. Karena Hansen meninggal,
maka istri dan jurumudinya dijadikan sandra dibawa ke gunung. Inggris kembali
menuntut kepada Belanda agar menyelesaikan hal tersebut. Belanda berusaha untuk
mencari kontak dengan Teuku Umar, tetapi tidak ada hasilnya. Sekali lagi
gubernur Aceh menyerahkan tebusan sebesar 25.000 dollar
Kali ini diberikan kepada Teuku Umar.
Untuk membuktikan kesetiaannya kepada Aceh, uang
yang diperoleh itu dibagi-bagikan kepada para pejuang Aceh. Karena sikap Teuku
Umar yang demikian itu Teuku Cik Di Tiro kembali mengajak Teuku Umar untuk
memperkuat barisan Aceh. Demikian juga Sultan Muhamad Daud Syah vang
berkedudukan di Keumala. Baginda memberikan penghormatan kepada Teuku Umar
dengan mengangkatnya menjadi syahbandar dan wilayah barat Aceh sebagai
kekuasaannya.
Pada tahun 1891 Teuku Cik Di Tiro meninggal karena
diracun dalam perjamuan makan di Seulameun. Cut Amin, putranya, diangkat untuk
menggantikannya. Tetapi dalam menjalankan tugas, ia tidaklah sebijaksana Teuku
Cik Di Tiro, sehingga anak buahnya bertindak menurut sekehendak hati dan tidak
menunjukkan tujuan perjuangan. Anak buahnya lebih banyak menindas rakyat.
Pasukannya bergerak secara liar ke kampung untuk minta bantuan secara
paksa.Tidak jarang pula mereka merampok rakyat yang tidak bersalah. Semua yang
didapat itu untuk kesenangan mereka sendiri. Mereka menyebut dirinya pasukan
muslimin, tetapi tindakan dan perbuatannya sangat bertentangan dengan ajaran
Islam. Gerakannya lebih banyak ditujukan kepada rakyat yang tidak bersalah
daripada kepada musuh.
Dalam gerakannya ini pasukan muslimin di bawah
pimpinan Cut Amin melancarkan operasinya ke kampung-kampung wilayah VI Mukim.
Tindakan mereka ini sangat mencemaskan rakyat, karena mereka secara paksa meminta
bantuan kepada rakyat. Cut Nyak Din adalah penguasa wilayah ini. Ia melarang
kebijaksanaan yang dilakukan oleh Cut Amin. Rakyatnya tidak diragukan lagi
sebagai penentang penjajahan Belanda. Harta dan jiwanya diserahkan untuk
perjuangan. Cut Nyak Din sendiri membutuhkan biaya untuk tujuan yang sama.
Karena tantangan yang diberikan Cut Nyak Din, Cut Amin merasa dihina. Oleh
karena itu ia mengangkat senjata dan mengerahkan kekuatan bersenjata untuk
memerangi rakyat VI Mukim. Perang saudara tak dapat dihindarkan. Rakyat VI
Mukim memberikan perlawanan. Maka berkecamuklah perang yang membawa korban di
kedua belah pihak. Rakyat VI Mukim terjepit karena mereka tidak punya orang
kuat untuk memimpin mereka dalam melakukan pertempuran.
Tindakan Cut Amin yang tidak bersahabat ini memaksa
Cut Nyak Din memanggil Teuku Umar dari pengembaraannya. Harapan rakyat dapat
dibuktikan oleh Teuku Umar. Pasukan Cut Amin dapat diusir keluar wilayah VI
Mukim.
Ketika Teuku Umar bersama rakyat VI Mukim sedang
menghadapi kekuatan pasukan muslimin pimpinan Cut Amin, Teuku Nanta meninggal
dunia karena telah tua. Nanta yang dicintai rakyatnya dikebumikan di Leupeung.
Teuku Umar berhasil mengusir pasukan Cut Amin ke
luar VI Mukim. Kemudian dengan bernafsu ia terus mengejar, sehingga ke luar
dari Sagi XXVI. Rupanya di balik keberhasilan Teuku Umar ada terselubung suatu
permainan. Ia bekerjasama dengan Belanda. Teuku Umar secara diam-diam telah
mengadakan kontak dengan Belanda untuk mendapatkan bantuan. Hal ini sangat
menikam perasaan Cut Nyak Din. Kepercayaan rakyat kepada Teuku Umar telah
hilang.
Karena langkah yang ditempuh Teuku Umar sangat
merugikan perjuangan rakyat Aceh. Rakyat mulai membandingkan, sejelek-jelek Cut
Amin masih lebih baik daripada Teuku Umar. Cut Amin berjuang untuk melawan
Belanda, sedang Teuku Umar mengarahkan bedil ke dapur sendiri. Karena itu hati
Cut Nyak Din makin jauh dari Teuku Umar sebagai pejuang. Tetapi sebagai istri
ia tetap mencintai Teuku Umar. Lebih jauh ia ingin melihat apa yang akan
diperbuat oleh Teuku Umar. Demikianlah ia semakin menjauh dari Cut Nyak Din
untuk menjalankan taktik barunya.
Pada tanggal 30 September 1893 Teuku Umar beserta
pasukannya yang berkekuatan 250 orang secara resmi menyatakan tunduk kepada
gubernur Belanda di Kutaraja. Teuku Umar bersedia membantu Belanda untuk
mengamankan Aceh. Karena itu pasukannya diberi perlengkapan yang cukup. Ia
diangkat sebagai panglima dengan gelar Teuku Umar Johan Pahlawan.
Rumahnya di Lampisang dibangun oleh Pemerintah
Belanda. Bentuknya disesuaikan dengan bentuk rumah seorang pejabat, lengkap
dengan taman dan kebun. Untuk keamanan, di sekelilingnya dipagar rapih. Di
dalamnya diisi dengan perabotan yang mutakhir, yang didatangkan dari luar
negeri. Semua keperluan dan kebutuhan keluarga Teuku Umar cukup, karena ia
telah digaji oleh pemerintah. Ia menjadi pejabat yang tidak kalah pentingnya
dari pejabat Belanda yang lain, yang hidup dalam kemewahan duniawi. Rumahnya
ramai didatangi pejabat-pejabat Belanda untuk mengadakan pembicaraan penting,
terutama langkah yang akan ditempuh dalam menjalankan
tugasnya.
Namum demikian Cut Nyak Din tidak silau melihat
pangkat dan kekayaan yang diperoleh Teuku Umar. Ia juga tetap keras pada
pendiriannya. Ia tidak mau bertemu muka dengan Belanda yang datang berkunjung,
karena kefanatikan yang dianutnya Ia menganggap Belanda itu tetap kafir. Teuku
Umar menyadari hal ini dan ia tidak berani memaksa Cut Nyak Din untuk
melakukannya. Karena itu Teuku Umar memerintahkan Cut Sopiah. istrinya yang
lain untuk mendampinginya ketika menerima tamu orang Belanda.
Untuk mendapatkan bantuan sebanyak-ban\aknya Teuku
Umar memulai dengan sandiwaranya. Ia meminta bantuan senjata untuk pasukannya
yang berjumlah 250 orang. Permintaan ini dipenuhi oleh Gubernur Devkerhoff. Teuku
Umar melihat bahwa kekuatan pasukan muslimin jauh lebih banyak. Dengan kekuatan
tersebut dapat membersihkan VI Mukim, IX Mukim dan terakhir mengarah ke Sagi XXVI.
Sementara pertempuran berlangsung dengan pasukan muslimin di Sagi XXVI, Teuku
Umar mendapat bantuan 17 orang panglima perang dan 120 orang prajurit yang
terpilih dari Aceh Barat di bawah pimpinan Pang Laat Dengan tambahan pasukan
tersebut kekuatan Teuku Umar sudah lebih dari satu batal}on dan mendapat
persenjataan lengkap dari Belanda.
Teuku Umar yang telah mendapat kepercayaan dari
Belanda mulai mengadakan gerakan yang lebih luas. Karena tekanan dan perlawanan
yang diberikan pasukan muslimin, Teuku Umar minta agar pasukan Belanda ke luar
sedikit dari garis-garis konsentrasi untuk memberikan bantuan. Dengan demikian
garis konsentrasi yang dipertahankan selama itu menjadi kendor, dan
terbentuklah garis konsentrasi kedua yang mempunyai kelemahan. Hal ini diikuti
oleh satuan-satuan kecil Belanda yang ke luar dari sarangnya untuk mengadakan
patroli.
Melihat gerakan tentara Belanda yang meluaskan
patrolipatrolinya ke luar dari garis konsentrasi, rakyat Aceh merasa curiga
bahwa Belanda menduduki daerah yang selama ini belum pernah dijamah oleh kaki
Belanda. Simpati rakyat terhadap tentara Muslimin timbul kembali dan sangat
membenci Belanda. Ulama Kutakarang yang terkenal dan disenangi rakyat
menghimpun kembali pejuang muslimin itu untuk melawan Belanda. Di sinilah Teuku
Umar tampil dan memegang peranan, la mengatur dengan rapi agar setiap
pertempuran tidak menimbulkan korban. Walaupun harus terjadi pertempuran, namun
tembakan diarahkan ke atas. Tetapi kalau terpaksa, pasukan muslimin terlebih
dahulu menghindar, dan kemudian pasukan Teuku Umar menyerbu dengan tembakan
yang gencar.
Demikianlah taktik yang telah diatur oleh Teuku
Umar, sehingga makin dipercaya oleh Belanda. Setiap perintah dijalankan dengan
baik, dan ia membuktikan kemampuannya menghadapi pasukan muslimin. Banyak
daerah yang telah bebas dari gangguan kaum pejuang muslimin.
Teuku Umar terus menunjukkan, keaktifannya untuk
membantu Pemerintah Belanda. Cut Nyak Din yang lemah, hanya mengikuti jejak
langkah yang dilakukan Teuku Umar dari Lampisang. Tetapi di balik itu Cut Nyak
Din tetap aktif mengadakan kontak dengan pejuang Aceh yang terus mengadakan
perlawanan. Hubungannya semakin dekat dengan Tengku Fakinah. Ia sangat
mengagumi Tengku Fakinah, karena semangatnya tidak luntur dan gerakannya tidak
patah. Berbagai usaha dan jalan telah ditempuhnya. Hubungan kedua tokoh ini
sangat rapatnya dan setiap ada masalah yang dihadapi mereka saling menasihati.
Ketika Teungku Fakinah menumpahkan tenaga dan
pikirannya untuk melakukan perjuangan, terhadap berita bahwa suami Cut Nyak Din
telah memihak kepada Belanda. Berita ini telah menyebar luas di kalangan
pejuang Aceh dan merupakan pukulan berat bagi Teungku Fakinah. Hal ini tidak
mungkin terjadi, karena ia telah mengenal lama bahwa Cut Nyak Din seorang yang
berkemauan keras serta mempunyai pendirian yang kuat. Ia sangat gigih menentang
musuh. Tidak mungkin Cut Nyak Din membiarkan suaminya melakukan perbuatan yang
demikian tercela. Dan apa yang telah dilakukan Teuku Umar sangat bertentangan
dengan cita-cita dan perjuangan rakyat Aceh. Teuku Umar seorang tokoh penting
yang sangat diharapkan tenaga dan pikirannya untuk meneruskan perjuangan.
Tetapi mengapa Cut Nyak Din membiarkannya terus berlarut-larut. Demikianlah
perhatian Teungku Fakinah pada Cut Nyak Din dan Teuku Umar.
Melihat ini Teungku Fakinah merasa bertanggung jawab
untuk menyadarkannya. Sudah sekian lama Teuku Umar mengabdi kepentingan Belanda
dan namanya yang terkenal baik akan tercela karena perbuatan ini. Rakyat banyak
telah mengetahuinya. Banyak rakyat Aceh beranggapan bahwa Teuku Umar telah
terlena dalam kesenangan duniawi yang diberikan oleh Belanda. Karena itulah
Teungku Fakinah berusaha untuk menarik Teuku Umar kembali ke dalam barisan
pejuang-pejuang Aceh. Dalam hal ini yang memegang kunci berhasil atau tidak
usahanya adalah Cut Nyak Din.
Dalam suatu kesempatan yang baik Teungku Fakinah
menyuruh 2 orang utusan untuk menyampaikan maksudnya kepada Cut Nyak Din di
Lampisang. Pesan Teungku Fakinah supaya Teuku Umar, suami Cut Nyak Din. datang
dengan pasukan lengkap ke Lamdiran untuk menyerang Benteng Inong Bale (Benteng
Janda). Kami telah siap menanti. Dengan demikian Teuku Umar akan mendapat
julukan panglima tertinggi dari atasannya di Kutaraja. Ia telah berjasa, karena
telah dapat menghancurkan sebuah benteng pertahanan wanita yang janda.-1"
Cut Nyak Din merasa terpukul menerima pesan yang. bernada sinis dari Teungku
Fakinah itu. Ia menyadari bahwa hal ini tidak masuk akal. Hal ini merupakan
ejekan terhadap dirinya, karena suaminya telah menyeleweng dari garis
perjuangan yang dicitacitakannya. Dan hal ini tidak akan mungkin dilakukan oleh
Teuku Umar. Kemudian Cut Nyak Din mengirim pesan kepada Teungku Fakinah. Ia
memberi pengharapan, bahwa ia akan berusaha menarik suaminya ke jalan yang
benar. "Percayalah kepada saya, bahwa Teuku Umar cepat atau lambat pasti
kembali ke pihak kita. Selama ini rupanya Teuku Umar belum dibukakan jalan oleh
Tuhan. Hatima masih tertutup.
Cut Nyak Din merenungi semua pesan Teungku
Fakinah.Ia merasa makin terpencil karena tindakan suaminya. Sindiran orang
banyak, kecaman dari pejuang-pejuang Aceh menambah beban pikirannya. Tetapi apa
daya karena telah berulang kali ia berusaha namun Teuku Umar mempunyai
penilaian yanglain. Ia belum dapat menerima, masih ada saja alasan yang
dibuatnya.
Ketika Pang Karim, tangan kanan Teuku Umar, datang ke
Lampisang, Cut Nyak Din menyampaikan pesan yang disampaikan Teungku Fakinah
kepadanya. Pesan Teungku Fakinah tersebut sangat menggoncangkan pikiran Teuku
Umar. Untuk menenangkan pikirannya ia kembali menemui Cut Nyak Din di
Lampisang. Kesempatan yang baik ini tidak disia-siakan oleh Cut Nyak Din. Ia
menyampaikan sekali lagi pesan Teungku Fakinah. Setelah melihat Teuku Umar agak
tenang Cut Nyak Din mengatakan kepada suaminya bahwa ia telah mengandung, dan
menurut keterangan ulama Tanah Abbe anak tersebut kelak akan menjadi orang
penting menggantikan ayahnya. Mendengar itu mata Teuku Umar bersinar, hatinya
sangat girang dan ia akan mengabulkan apa yang diminta oleh istrinya. Ia sangat
mendambakan seorang anak' laki-laki. Setelah-mengena pancingan ini, Cut Nyak
Din menyampaikan maksudnya yang selama ini dipendamnya. Ia minta supaya Teuku
Umar segera kembali ke dalam barisan pejuang-pejuang Aceh yang menunggunya.
Setelah mempertimbangkan beberapa persoalan yang
dihadapinya, yakni tekanan dari Belanda, cemoohan dari pihak pejuang Aceh dan
tarikan halus dari Cut Nyak Din, maka Teuku Umar merundingkan hal ini dengan
stafnya di Lampisang. Dalam kesempatan ini Cut Nyak Din ikut memberikan
pendapat. Ia berbicara dengan tegas dan berusaha keras supaya Teuku Umar kembali
secepat mungkin. Karena ia sangat malu kepada pejuang-pejuang Aceh yang masih
aktif. Malu terhadap rakyat Aceh yang hartanya sudah habis dicurahkan untuk
perjuangan. Bahkan ulama telah mencap suaminya sebagai ular berkepala dua.
Karena itu ia minta kepada suaminya agar tidak usah mengharapkan pangkat dan
kedudukan seperti yang diperoleh Teuku Nek dan Panglima Tebang. Orang
akan memberi julukan
pengkhianat bangsa, namanya akan tercatat dalam sejarah sebagai
pengkhianat besar dan akan diingat oleh anak-cucu rakyat Aceh.
Teuku Umar dapat memahami semua yang dikatakan Cut
Nyak Din, tetapi menurut hematnya, orang tidak mengerti tujuan perjuangan yang
dilakukannya. Saat yang dinanti belum tiba. Apa yang diperoleh dari Belanda
belum memadai untuk bertindak. Ia masih banyak mengharapkan keuntungan dari
musuh yang akan disumbangkan untuk meneruskan perjuangan.
Suatu persoalan belum dapat dipecahkan. Belanda di
Kutaraja mendesak pasukan Teuku Umar untuk menyerang pusat kekuatan perjuangan
rakyat Aceh di Larnkrak.1" Markas pertahanan ini dipimpin oleh Teungku
Fakinah. Ia adalah seorang pemimpin yang fanatik dan sangat gigih menentang
Belanda. Teungku Fakinah mendapat dukungan dari rakyat dan ulama. Begitupun
para Uleebalang mendukung penuh daerah ini. Di Kotaraja Belanda telah membuat
rencana yang matang.
Dalam rencana tersebut Teuku Umar diperbolehkan
memperbesar jumlah pasukannya dan dilengkapi dengan alat senjata yang
dibutuhkan. Teuku Umar diperbolehkan menambah tenaga dari daerah VI Mukim dan
daerah lainnya. Bila Teuku Umar memerlukan lagi tenaga, ia boleh menambah
tenaga dari Leupeung dan Long. Dalam rencana itu pasukanTeuku Umar akan
melakukan serangan dari arah Bilal, sedang pasukan Belanda yang terdiri atas
delapan kompi yang dipimpin oleh Kolonel Van Vliet akan bergerak dari jurusan
Aneuk Galong. Setelah Teuku Umar mempelajari rencana ini dengan seksama, ia
berkesimpulan bahwa apabila rencana ini dijalankan dengan sungguh-sungguh sudah
pasti akan membawa malapetaka bagi pejuang Aceh.
Selama ini ia menjalankan tugas dari Belanda, tetapi
tetap berusaha untuk memberi keuntungan kepada pihak Aceh. Tidaklah secara
bersungguh-sungguh ia melakukan pertempuran apabila menghadapi perjuang Aceh.
Kalau perintah ini dijalankan, yaitu bergerak dari Bilal, sudah dapat
dipastikan bahwa para pejuang akan menghindar ke Aneuk Galong. Ini merupakan
makanan empuk bagi Belanda. Para pejuang Aceh akan menjadi sasaran peluru
pasukan Van Vliet.
Setelah mempertimbangkan semua itu dan tahu bahwa
hal itu akan merugikan pejuang-pejuang Aceh, maka Teuku Umar mengusulkan kepada
Belanda agar pasukannya segera menjalankan tugas dan melakukan serangan dari
Aneuk Galong. Ia minta tambahan perlengkapan berupa beberapa pucuk meriam.
Pasukan Van Vliet bergerak dari arah Bilal. Dengan demikian kedua pasukan itu
samasama bergerak dan akan bertemu di Lamkrak. Tetapi usul ini ditolak oleh
Deykerhoff sebagai, gubernur Aceh. Karena usul ini tidak diterima, Teuku Umar
membuat alasan lagi, bahwa dalam bulan puasa pasukannya tak dapat menjalankan tugas
yang berat. Usul ini dapat diterima gubernur Belanda. Tetapi setelah 15 hari
lebaran Belanda minta supaya pasukan Teuku Umar menjalankan tugas seperti yang
telah direncanakan.32' Melihat semua usulnya, tidak mendapat tanggapan yang
positif, Teuku Umar memutuskan untuk berbalik ke pihak Aceh.
Semua rencana Teuku Umar berjalan lancar yang
diharapkan. Pada tanggal 29 Maret 1896 setelah tiga tahun ia beserta pasukannya
berada di pihak Belanda, ia kembali membawa pasukannnya untuk bergabung dengan
barisan pejuang-pejuang Aceh. Dalam kesempatan itu ia membawa semua
perlengkapan yang diberikan oleh Belanda, yakni terdiri atas 800 pucuk senjata,
2000 butir peluru, 500 kg amunisi, 500 kg timah, dan uang sebanyak 18.000
dollar. Teuku Umar memusatkan kekuatannya di barat laut Aceh Raya. Dengan cepat
ia membangun kubu-kubu pertahanan yang direntangkan dari Lampisang, Peukan
Bada, Lam Asam, dan terus bersambung sampai ke Bukit Asam.
Bersamaan dengan kembalinya Teuku Umar ke pihak
Aceh, Teuku Husin Long Bata juga meninggalkan Belanda, sehingga di antara
beberapa daerah berkobar pula perlawanan terhadap Belanda. Daerah itu antara
lain daerah III Mukim Lam Rebo. Mukim Hoho dan. Lamjeumpa Sagi XXII.
Teuku Umar telah kembali ke pihak Aceh untuk
mengembalikan nama baiknya terhadap rakyat dan tokoh-tokoh pejuang Aceh. Untuk
mengembalikan kepercayaan ulama, ia mengirim surat pernyataan kepada ulama
Tanah Abee bahwa ia beserta pasukannya akan ikut aktif memperkuat barisan Aceh.
Kemudian ia mengirim surat kepada sultan yang berkedudukan di Keumala dan
menyatakan kesetiaannya pada sultan serta pasukannya akan siap tempur
menghadapi Belanda Tetapi apa yang dinyatakan oleh Teuku Umar mendapat
tanggapan dingin. Sultan belum meyakini benar kesungguhan yang dinyatakan Teuku
Umar.
Karena tidak mendapat tanggapan yang positif, timbul
keraguan dalam diri Teuku Umar. Ia menyadari bahwa rakyat Aceh kurang percaya
kepadanya. Tetapi Cut Nyak Din terus memberikan dorongan dan pengharapan kepada
Teuku Umar. Di balik itu secara diam-diam ia menulis surat kepada Gubernur Aceh
Daykerhoof. Teuku Umar menyatakan kesediaannya untuk menyerang daerah Lamkrak
dengan syarat surat tugasnya ditandatangani oleh gubernur jendral dari
Batavia.3"'Permintaan ini tidak mungkin dikabulkan oleh Gubernur Aceh
Daykerhoof. Hal ini sudah terlambat, karena ia telah melaporkan kepada
atasannya di Batavia bahwa Teuku Umar telah berkhianat terhadap Pemerintah
Belanda. Tetapi Teuku Umar belum berputus asa. Ia mengirim surat lagi kepada
gubernur Aceh. Dalam surat terakhir ini ia menyatakan akan bersedia kembali
dengan pasukannya ke pihak Belanda dengan permintaan supaya dapat disediakan
uang sebanyak 150.000 dollar. Kalau ini dapat dipenuhi oleh Pemerintah Belanda
ia sanggup membersihkan Aceh dari pengacau liar dimulai dari Trunon sampai ke
daerah Perlak di Aceh Timur.
Semua usul Teuku Umar kepada Pemerintah Belanda
hampa belaka.Gubernur Aceh telah minta ke Batavia untuk mendatangkan bantuan
dalam usaha mengambil tindakan terhadap pengkhianatan Teuku Umar. Bersamaan
dengan itu datanglah JA. Veter, panglima Angkatan Darat Hindia Belanda, ke
Aceh. Sebagai ancaman Pemerintah Belanda mengirim surat kepada Teuku Umar
supaya menyerahkan semua perlengkapan yang telah dibawa oleh Teuku Umar. Karena
usaha ini tidak membawa hasil yang diharapkan, Pemerintah Belanda mengeluarkan
surat keputusan bahwa Teuku Umar dinyatakan telah dipecat dari jabatannya
sebagai panglima besar dan uleebalang Leupeung.
Dalam situasi demikian ini Teuku Umar telah menyiapkan
perbekalan untuk menghadapi serangan Belanda. Sebagai pusat untuk menyimpan
persediaan tersebut dipilihlah Leupeung. Bersama itu berangkat pula Cut Nyak
Din bersama rombongan menuju Leupeung Rombongan Cut Nyak Din berangkat kembali
seperti dalam masa Teuku Cik Ibrahim Lamnga masih hidup beberapa tahun yang
lalu.
Pada tanggal 23 Mei 1896 pasukan Belanda dengan
kekuatan 2500 orang tentara di bawah pimpinan Van Heutsz dan Van Daalen.
mengadakan serangan dari 4 jurusan ke daerah VI Mukim. Pasukan meriam terus
maju secara perlahan-lahan memberi perlindungan kepada barisan terdepan
sehingga tentara Belanda berhasil merebut kubu pertahanan Teuku Umar di lereng
Bukit Barisan. Dengan jatuhnya kubu pertahanan ini satu demi satu daerah VI
Mukim jatuh ke tangan Belanda. Rakyat VI Mukim terpaksa mengungsi karena tembakan
tentara Belanda yang terus mengganas, menyapu kampungkampung di daerah VI
Mukim. Setelah tiga hari pertempuran berlangsung, korban di pihak Teuku Umar
telah berjatuhan. Demikian pula di pihak Belanda. Tetapi Belanda tidak
mengendurkan tekanannya. Karena itu untuk menghindari korban yang banyak, Teuku
Umar menarik mundur pasukannya ke Ngalau Ngarai Beradin.
Rumah Teuku Umar di Lampisang yang dibangun oleh
Pemerintah Belanda turut menjadi sasaran kemarahan tentara Van Heutsz. Semua
isinya dirampas dan dihancurkan.39' Dalam pertempuran ini Teuku Umar mengalami
kerugian besar, 200 tentaranya tewas dan gudang persiapannya terbakar habis
oleh tembakan meriam tentara- Belanda. Teuku Husin Long Bata yang setia
membantu Teuku Umar turut tewas dalam pertempuran itu Setelah pertempuran usai
Teuku Umar kembali ke Lampisang dengan sisa-sisa pasukannya. Kemudian ia
membangun lagi kubu-kubu pertahanan dan mengatur lagi pasukannya di Lamjamu.
Cut Nyak Din terus mendampingi Teuku Umar.
Sungguhpun kalah dalam pertempuran itu, tetapi merasakan suatu kemenangan vang
besar, karena ia telah dapat mengarahkan usahanya pada rakyat Aceh. Teuku Umar
telah dapat ditariknya untuk memperkuat barisan pejuang-pejuang Aceh. Karena
itu ia bertekad akan selalu mendampinginya dan terus mendorong suaminya untuk
maju ke depan. Cut Nvak Din memberikan pujian, bahwa pasukan Teuku Umar jauh
lebih baik alat persenjataannya daripada yang dimiliki oleh pasukan Teuku
Ibrahim Lamnga dulu. Dengan dukungan moral dari Cut Nyak Din, Teuku Umar tidak
lagi memikirkan bantuan atau senjata dari siapa pun. Ia membulatkan tekad,
percaya kepada kekuatan sendiri untuk meneruskan perlawanan sampai titik darah
penghabisan. Ia ingin membuktikan bahwa ia tetap setia dan mencintai tanah
Aceh.
Seminggu kemudian Belanda melancarkan serangan
dengan kekuatan 1800 orang tentara yang dibantu oleh 400 orang kuli Cina dan
300 orang kuli paksa (merante). Dalam penyerangan ini diikutsertakan tiga buah
kapal perang dan dua buah kapal pengangkut barang-barang.4'" Belanda
merencanakan penyerangan ini dilakukan melalui darat dan laut. Pasukan maju
terus mendekati pantai Krueng Raba, sedangkan pasukan darat dengan dibantu oleh
35 orang pasukan berani mati terus bergerak maju mengikuti isyarat yang
diberikan oleh angkatan laut dari Krueng Raba. Penyerangan secara besar-besaran
ini membawa kerugian besar di pihak Teuku Umar. Persiapan perang makin menipis
dan anggota pasukan banyak yang tewas. Namun Teuku Umar terus memberikan perlawanan
dengan berpindah-pindah tempat.
Karena makin terdesak oleh serangan tentara Belanda,
Teuku Umar yang terus didampingi oleh Cut Nyak Din menyingkir ke Long. Tentara
Belanda terus mengikuti jejak langkah Teuku Umar. Kampung-kampung yang
rakyatnya memberikan bantuan Teuku Umar dibakar habis oleh tentara Belanda, di
antaranya daerah VI Mukim. Kemudian tentara Belanda melancarkan serangannya ke
daerah IV Mukim dan VII Mukim. Dengan kejam tentara Belanda membakar mesjid di daerah tersebut. Dalam penyerangan ini
banyak pejuang Aceh yang menjadi korban dan tertawan. Teuku Umar yang
didampingi oleh Cut Nyak Din bergerak secara mobil. Ia dapat meloloskan diri
dari setiap kepungan yang dilakukan oleh tentara Belanda. Karena tekanan yang
terus-menerus, Teuku Umar pindah ke Daya dan kemudian pindah lagi ke Leupeung.
Ketika penyerangan ke Long, Teuku Umar menyingkir ke
lereng Bukit Barisan. Tentara Belanda terus mengejar dan berusaha menduduki
tempat ini, tetapi dapat dipukul mundur. Sewaktu mundur pasukan Teuku Umar
dengan cepat memotong dan mencegat pasukan Belanda, sehingga tentara Belanda
banyak mendapat kerugian. Demikianlah tentara Belanda maju-mundur selama 6
minggu, dan Teuku Umar dapat meloloskan diri. Tetapi sebagai akibatnya kepala
daerah Long dipersalahkan menunjukkan jalan yang salah dan karenanya ia didenda
30.000 dollar.4" Karena tidak dapat memenuhi tuntutan ini kepala daerah
tersebut ditahan di Kotaraja.
Teuku Nyak Makam, saudara Teuku Cik Ibrahim Lamnga
yang berada di pihak Teuku Umar, sedang menderita sakit di Lamnga. Dalam
keadaan sakit ia dipaksa oleh tentara Belanda untuk ke luar rumahnya. Karena
tidak ada yang membuka, beberapa tentara Belanda di bawah
pimpinan seorang opsir dengan kekerasan menerjang pintunya sampai pecah.
Kemudian Teuku Nyak Makam yang sakit itu diseret ke luar dan dihadapan rakyat
banyak ia ditembak, kepalanya dipotong dan ditancapkan pada sepotong bambu,
kemudian diperlihatkan kepada rakyat.
Tengku Mayit, menantu Cut Nyak Din, suami Cut
Gambang, terus memberikan bantuan dengan sekuat tenaga, ia mengobarkan perang
sabil di XXII Mukim.Teuku Umar dan Cut Nyak Din selalu dapat menghindarkan diri
dari setiap kepungan tentara Belanda. Panglima Polim memperkuat pasukannya di
Seuleumeun dan mulai bergerak ke daerah Pidie untuk bergabung dengan Sultan
Muhammad Daud Syah. Rakyat VI Mukim yang telah mengungsi ke Teunong mulai
kembali ke kampungnya.Karena kesungguhannya dalam barisan Aceh, maka Sultan
Muhamad Daud Syah memanggil Teuku Umar untuk menghadap ke daerah Pidie.43'
Jalan yang akan ditempuh Teuku Umar dan Cut Nyak Din cukup berat, karena Lembah
Aceh Besar telah dikuasai oleh Van Heutsz. Untuk bergerak ke Pidie Teuku Umar
menempuh jalan berliku-liku dan sangat panjang. Hal ini untuk menghindari
Belanda. Taktik yang dilakukan tentara Belanda untuk mengikutinya. Untuk
menjebak tentara Belanda, pasukan Teuku Umur bergerak ke barat. Setelah
menghilangkan jejak, pasukan Teuku Umar membelok ke selatan dan menempuh jalan
yang tidak pernah dilalui oleh manusia. Teuku Umar merintis jalan, memotong
gunung dan menyeberangi sungai deras membelok ke timur dan terus ke Lembah
Pidie. Ia bergabung dengan pasukan Panglima Polim. Pasukan gabungan ini dalam
beberapa kesempatan menghantam pos-pos Belanda dan mencegat patroli Belanda
dalam perjalanan pulang. Kegiatan pejuang Aceh di daerah Pidie makin meningkat,
Cut Nyak Din dan Teuku Umar berkedudukan di Garut.
Pada awal Mei 1898 Kolonel J.B Van Heutsz diangkat
menjadi Gubernur Aceh menggantikan Van Vliet dan bersama dengan itu diangkat
pula Snuck Hurgronye menjadi penasihatnya. Van Heutsz dan Snuck Hurgronye
bekerjasama dengan baik. Tangan keras dan otak yang tajam bekerjasama untuk
menghancurkan kekuatan Aceh sampai ke akarnya. Sasaran yang
telah direncanakan mereka adalah
Pidie. Di daerah ini Sultan Muhammad Daud Syah dan pengikut
pengikutnya yang setia berkumpul.
Pidie. Di daerah ini Sultan Muhammad Daud Syah dan pengikut
pengikutnya yang setia berkumpul.
Dalam rangka melakukan serangan ke daerah Pidie. Van
Huetsz telah membuat rencana yang teliti dan terperinci.4" Untuk memulai
gerak, pangkalan tentara Belanda ditentukan di sebelah barat Kota Seulemeum dan
bagian timur Kota Sigli. Bantuan tenaga dan perlengkapan untuk wilayah barat
dapat didatangkan dari Kotaraja dengan kereta api cepat, sedang untuk timur
diberangkatkan sebuah armada yang terdiri atas lima buah kapal yang langsung
dipimpin o 1 eh Van Heutsz sendiri. Kekuatan yang dikerahkan untuk menyerang
adalah 8000 personal dan dipecah dalam kesatuan-kesatuan yang dipimpin oleh 175
orang opsir, dengan perincian 2000 orang bergerak dari Seuleumeum dan 8000
orang bergerak dari Sigli. Kedua pasukan ini sama-sama bergerak menuju ke
Lembah Pidie pada medan yang telah ditentukan. Untuk memindahkan jalan ke
tempat yang dituju, setiap pasukan diperlengkapi dengan peta yang telah dibuat
dengan cermat berdasarkan keterangan orang Aceh sendiri. Pasukan yang bergerak
dari Sigli, dipecah menjadi dua. Satu jurusan bergerak dari Garut dan satu
pasukan lagi bergerak ke Padang Tigi. Dengan demikian diperhitungkan kalau
Teuku Umar tidak dapat lolos dari serangan ini. Setiap tentara diperlengkapi
dengan secukupnya. Makanan dibawa sendiri di ransel. Tetapi Teuku Umar dengan
cepat dapat menghindarkan diri dari serangan ini. Ia dan Cut Nyak Din
meninggalkan Garut. Dengan tangan hampa Van Heutsz meneruskan perjalanan ke
Padang Tigi. Rakyat Padang Tigi memberikan perlawanan. Karena itu Van Heutsz
mengundurkan semua pasukannya ke pangkalan masing-masing.
Tekanan yang terus-menerus dilancarkan oleh tentara
Belanda membuat ruang gerak pejuang-pejuang Aceh makin sempit. Rakyat mendapat
ancaman keras, uleebalang banyak yang menyeberang dan memihak kepada Belanda.
Bantuan yang diharapkan dari rakyat makin sulit. Teuku Umar dan Cut Nyak Din
terpaksa menyingkir ke daerah Keumala dan Bireun.Pengikutnya
banyak yang luka tak terawat karena kurangnya obatobatan. Penyakit perut berjangkit
disebabkan kurang makan. Untuk mengatasi hal ini dengan diam-diam
Teuku Umar turun ke kampung untuk meminta bantuan kepada rakyat yang masih
tetap setia. Hal ini terpaksa dilakukan secara hati-hati, karena setiap kampung
selalu diintai oleh mata-mata Belanda. Kalau ketahuan rakyat yang bersangkutan
mendapat hukuman keras dari Belanda.
Dalam keadaan yang demikian susahnya Cut Nyak Din
terus setia mendampingi Teuku Umar, pindah dari satu tempat ke tempat yang lain
yang dianggap aman. Cut Nyak Din yang melihat Teuku Umar dalam kebingungan
memberikan semangat. Dukungan moral yang diberikan oleh Cut Nyak Din
membangkitkan semangat juang Teuku Umar. Cut Nyak Din khawatir kalau Teuku Umar
berbalik lagi kepada Belanda.Melihat keadaan yang makin genting dan kehidupan
bertambah susah, Teuku Umar memikirkan nasib Cut Nyak Din yang kelihatan
semakin payah dalam kejaran tentara Belanda. Karena itu ia merencanakan untuk
mengungsikan Cut Nyak Din ke tempat yang aman. yang tidak diketahui oleh musuh.
47) Dengan demikian ia akan lebih bebas bergerak. Tetapi Teuku Umar merasa
terkejut, karena ajakan yang baik ini mendapat tantangan yang keras. Sambil
mencabut rencong dari pinggangnya Cut Nyak Din berkata dengan garang:
"Hanya ujung peluru kafir yang dapat menghambat aku. Jangan dirisaukan
aku. Aku tidak bersedia berpisah dengan kau. Aku rela menderita demi
melanjutkan perjuangan yang suci ini. Saya terima semua ini. Oleh sebab itu
harapan saya, teruskanlah perjuangan ini. Saya tetap setia mendampingimu,"
Mendengar kata-kata itu, Teuku Umar tidak berani meneruskan niatnya. Tetapi di
balik itu hatinya bertambah teguh. Jiwanya bagai dicambuk dan ingin lari
sekencangkencangnya untuk mengejar musuh. Ia bangga kepada Cut Nyak Din,
seorang istri yang setia. Seorang wanita yang berhati singa memberikan dukungan
moral yang tak ternilai kepadanya.
Demikianlah kedua pasangan ini terus bertahan
menghadapi tantangan. Setiap tantangan mereka jawab dengan perlawanan yang
berimbang. Teuku Umar selalu menghindari perang total, la mempergunakan taktik
yang cukup merepotkan patroli Belanda, la mengadakan penyerangan di kala
tentara Belanda lengah, atau ketika
tentara Belanda telah habis tenaga pada waktu perjalanan pulang, Teuku Umar datang mencegatnya sehingga tentara Belanda banyak mendapat kerugian.Sementara itu timbul perlawanan yang hebat di Aceh Timur di bawah pimpinan Tengku Tapa.481 Belanda terpaksa menghentikan pengejaran terhadap Teuku Umar. Pasukan-pasukan Belanda mencurahkan perhatiannya untuk mematahkan perlawanan tersebut. Tengku Tapa adalah seorang panglima yang datang dari tanah Gayo bersama pasukannya. Mula-mula pasukan ini menggabungkan diri dengan Tuanku Muhamad Daud di daerah Pidie. Setelah Tuanku Muhamad Daud tertawan. Tengku Tapa membawa pasukannya ke daerah Peusangan. Di sini mereka mengadakan pengacauan terhadap pos-pos Belanda dan membongkar rel kereta api, sehingga kereta api yang mengangkut tentara Belanda sering terguling. Karena terus terdesak mereka menyingkir ke timur lagi. Pada suatu kesempatan. Tengku Tapa dan pasukannya melakukan serangan secara habishabisan terhadap benteng Belanda di Lho Sukun. Dalam penyerangan ini ia sendiri tewas. Mayatnya diusung oleh pengikutnya yang setia kembali ke tanah Gayo melalui hutan Samarkilang yang masih rawan.
tentara Belanda telah habis tenaga pada waktu perjalanan pulang, Teuku Umar datang mencegatnya sehingga tentara Belanda banyak mendapat kerugian.Sementara itu timbul perlawanan yang hebat di Aceh Timur di bawah pimpinan Tengku Tapa.481 Belanda terpaksa menghentikan pengejaran terhadap Teuku Umar. Pasukan-pasukan Belanda mencurahkan perhatiannya untuk mematahkan perlawanan tersebut. Tengku Tapa adalah seorang panglima yang datang dari tanah Gayo bersama pasukannya. Mula-mula pasukan ini menggabungkan diri dengan Tuanku Muhamad Daud di daerah Pidie. Setelah Tuanku Muhamad Daud tertawan. Tengku Tapa membawa pasukannya ke daerah Peusangan. Di sini mereka mengadakan pengacauan terhadap pos-pos Belanda dan membongkar rel kereta api, sehingga kereta api yang mengangkut tentara Belanda sering terguling. Karena terus terdesak mereka menyingkir ke timur lagi. Pada suatu kesempatan. Tengku Tapa dan pasukannya melakukan serangan secara habishabisan terhadap benteng Belanda di Lho Sukun. Dalam penyerangan ini ia sendiri tewas. Mayatnya diusung oleh pengikutnya yang setia kembali ke tanah Gayo melalui hutan Samarkilang yang masih rawan.
1.
Diangkat Menjadi Panglima
Keadaan pejuang-pejuang Aceh makin
mengkhawatirkan. Orang-orang kuat telah banyak yang tewas. Uleebalang banyak
yang dipaksa menyerah dan rakyat makin terjepit oleh tekanan yang dilakukan
oleh Van Heutsz. Melihat situasi yang demikian ini Sultan Muhamad Daud Syah
mengadakan pengangkatan pimpinan komando perang dan peremajaan tenaga yang
semakin lumpuh. Untuk mengatasi kemelut ini sultan menjatuhkan sendiri
pilihannya pada Teuku Umar. Sultan melihat sendiri bahwa Teuku Umar tidak
diragukan lagi kepemimpinannya dan keberaniannya yang dilandasi dengan akalnya
yang tajam. Pada tanggal 25 Juli 1898 dengan mengambil tempat di Kade Malu,
Sultan mengangkat secara resmi Teuku Umar menjadi panglima Angkatan Perang Aceh
dengan memberikan surat keputusan yang dibubuhi '"Cap Sembilan".
Upacara ini disaksikan oleh tokoh tokoh penting,
uleebalang dan para ulama. Dalam kesempatan ini sultan memberikan amanat kepada
Teuku Umar dan yang hadir supaya meneruskan perjuangan dan bertanggungjawab
kepada negara, bangsa dan agama. Kemudian sultan menyerukan kepada seluruh
rakyat supaya terus meningkatkan perjuangan melawan Belanda.
Setelah selesai upacara pengangkatan
Teuku Umar, para tokoh Aceh mengadakan tukar pikiran tentang cara yang paling
tepat untuk menghadapi kekuatan musuh. Dalam kesempatan ini Teuku Umar
mengemukakan pendapatnya. Kita kekurangan alat senjata, sedangkan musuh
bersenjata lengkap dan moderen. Maka jalan yang paling tepat ialah kita pukul
mereka dan segera mundur. Jadi kita jangan memberikan perlawanan secara
habis-habisan seperti yang dilakukan oleh Teuku Tapa. Saya tidak setuju dengan
cara yang demikian. Cara ini akan merugikan kita sendiri. Banyak tokoh-tokoh
yang sangat diharapkan tewas di ujung peluru musuh. Demikian pendapat Teuku
Umar dalam melakukan taktik perjuangan. Taktik ini disetujui oleh para pemimpin
pejuang Aceh.
Setelah Van Heutsz mematahkan perlawanan
Tengku Tapa di Aceh Timur, kembali ia mengarahkan pasukannya ke daerah Pidie;
Teuku Umar dan Cut Nyak Din kini berkedudukan di Tangse, letaknya lebih kurang
60 km dari Kota Sigli ke arah Selatan. Mendengar berita ini Van Heutsz segera
mengirimkan pasukan untuk menyergapnya dari dua jurusan. Teuku Umar yang tajam
firasatnya dengan didampingi Cut Nyak Din telah mengambil tempat untuk mencegat
musuh di Ngarai Benit. sebuah jalan sempit yang susah dilalui.501 Daerah ini
sangat strategis berbentuk tebing yang sangat curam di kaki Bukit Barisan. Di
daerah inilah Teuku Umar menyusun pasukan pencegat tentara Belanda. Ketika
pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Kolonel Willem memasuki jalan ini,
pasukan Teuku Umar menghujani pasukan Belanda dengan tembakan yang gencar
diselingi dengan jatuhnya batu yang digulingkan dari atas tebing
sehingga Willem terpaksa menarik mundur pasukannya. Kalau diteruskan
akan tamatlah
riwayat seluruh pasukan Willem di sini.
riwayat seluruh pasukan Willem di sini.
Van Heutsz dengan pasukannya telah
berhasil menemukan jalan lain untuk mencapai tujuan dari seorang Aceh yang
berkhianat. Teuku Umar tak dapat menghindar karena tiba-tiba datana serangan
dari arah yang tidak diduga. Pasukan Teuku Umar bertahan dan
berlindung di balik pohon-pohonan, sedang tentara Van Heutsz terus mendesak
dengan tembakan yang gencar dan bersama dengan itu maju pula pasukan
marsosenya. Pertahanan Teuku Umar menjadi lumpuh karena terpecah-pecah. Korban
banyak yang berjatuhan. Teuku Bin Komala, staf Teuku Umar, tewas. Melihat hal
ini Teuku Umar tak sabar. Ia ingin menuruni tebing yang curam untuk meletakkan
pedangnya di leher musuh. Tetapi Cut Nyak Din cepat mencegahnya. Cut Nyak Din
melihat bahwa tempat tersebut sangat strategis. Kalau tempat tersebut
ditinggalkan, berarti memberi kemenangan kepada musuh. Karena itu Teuku Umar
terus bertahan pada tempat itu. Kepungan tentara Van Heutsz makin rapat, peluru
makin menuju sasaran. Tetapi dalam keadaan demikian sengitnya Teuku Umar dan
Cut Nyak Din berusaha melepaskan diri. Setelah lepas dari kepungan ini Teuku
Umar mengumpulkan kembali sisa pasukannya. Yang luka-luka dirawat secara
darurat. Kemudian Teuku Umar merencanakan akan menyingkir dan kembali ke
Leupeung. Tetapi Cut Nyak Din tidak menyetujui rencana ini. Alasannya, banyak
tentaranya yang luka dan tidak mungkin untuk melakukan perjalanan yang sulit
dan jauh Lebih baik sambil menunggu bantuan dirawat dulu yang luka di sekitar
daerah tersebut dan dicari tempat yang aman untuk istirahat. Cut Nyak Din
membayangkan betapa susahnya perjalanan jauh dengan membawa tentara yang sakit.
Tetapi karena sudah keputusan Teuku Umar demikian, terpaksa Cut Nyak Din
menurut. Rombongan ini secara perlahan kembali bergerak mengarungi hutan
belantara dengan serba kekurangan, kurang makan dan kurang obat-obatan bagi
yang sakit. Dengan susah payah rombongan Teuku Umar akhirnya sampai ke
Leupeung. Perjalanan ini adalah perjalanan Teuku Umar yang terakhir untuk
meneliti punggung dan lembah Bukit Barisan.
2.
Teuku Umar Gugur
Perjalanan yang panjang dan melelahkan
untuk menghindari kejaran dan intaian tentara Belanda merupakan tekanan yang
paling berat bagi Teuku Umar dan Cut Nyak Din. Pengikut-pengikutnya makin
menipis. Tentaranya telah banyak yang tewas. Penyakit perut berjangkit karena
kekurangan makanan. Dari Leupeung Teuku Umar dan Cut Nyak Din
meneruskan perjalanannya ke wilayah VI Mukim ke tempat kelahiran Cut Nyak Din.
Teuku Umar berusaha mendapatkan bantuan seperlunya, makanan dan tenaga yang
diperlukan, tetapi sambutan rakyat VI Mukim kelihatan dingin, apalagi pemuda
yang besar pada zaman penjajahan tidak begitu tertarik lagi akan perjuangan,
sedangkan yang tua tidak mungkin diharapkan tenaganya. Dengan tenaga yang ada
Teuku Umar dan Cut Nyak Din meneruskan perjalanannya ke arah barat. Kemudian
rombongan ini sampai ke daerah Wolya, tempat neneknya Makhdun Sati pertama kali
ke daerah ini.5" Mereka mengenangkan kembali masa kejayaan Makhdun Sati.
Ketika melihat daerah ini hati mereka menjadi aman dan lapang. Mereka telah
jauh dari intaian, musuh. Kesempatan yang baik mengatur kekuatannya. Berkat
bantuan Cut Nyak Din yang setia, semangat tempur tidak kendor. Setiap
kesempatan Cut Nyak Din memberikan pemikiran yang mendorong semangat Teuku Umar
untuk maju terus menerjang musuh. Demikianlah Cut Nyak Din menyerahkan jiwa dan
raganya untuk meneruskan perjuangan di samping Teuku Umar.
Van Heutsz yang memasang jaringan
mata-matanya di setiap tempat, telah berhasil mencium jejak tempat Teuku Umar
bersembunyi. Pasukan marsose Belanda terus bergerak untuk mengikuti Teuku Umar
dari belakang Untuk mengecek kebenaran ini. Van Heutsz dengan pasukan kecil
bertolak ke Meulaboh.
Teuku Umar tidak kalah siasat. Ia juga
memasang orang-orangnya untuk mengikuti gerak-gerik dan langkah yang akan
dilakukan Belanda. Berita kedatangan Van Heutsz dan pasukannya ke Meulaboh
cepat pula sampai ke telinga Teuku Umar. Menurut info yang didapat oleh Teuku
Umar, kekuatan Van Heutsz tidak begitu besar. Karena itu dengan cepat Teuku
Umar mempersiapkan pasukannya untuk menyerang Meulaboh. Ia menyiapkan tentara
sebanyak 800 orang. Sebelum pasukan berangkat, Teuku Umar minta doa restu
kepada Cut Nyak Din. Demikian pula Cut Nyak Din melepas suaminya dengan
pengharapan supaya Teuku Umar dan pasukannya membawa kemenangan. Dengan iringan
doa selamat, berangkatlah pasukan Teuku Umar dari Pasir Putih. Teuku Umar
merencanakan malam harinya akan menyerang secara besar-besaran terhadap
benteng yang ditempati Van Heutsz.
Tetapi dalam siasat ini Teuku Umar
rupanya kalah cepat. Serangan yang akan dilakukannya telah terlebih dulu
disampaikan oleh seorang pengkhianat dari rombongannya kepada Van Heutsz. Untuk
mengimbangi serangan ini Van Heutsz menugaskan pasukannya untuk mencegat
pasukan Teuku Umar ke Ujung Kala. Dengan demikian rencana Teuku Umar untuk
menyerang Kota Meulaboh dapat dipatahkan dengan mudah.
Pada tanggal 11 Februari 1899 malam,
sebelum mencapai Kota Meulaboh, yaitu di Ujung Kala, Teuku Umar yang berjalan
di depan melihat adanya suatu bayangan sedang menanti. Setelah diawasi daerah
sekitarnya ia mengakui bahwa itu musuh. Maka dengan suara yang lantang ia
memberi komando pada pasukannya untuk menyerang. Dalam malam gelap itu
bergemalah tembakan tentara Teuku Umar dan disambut dengan tembakan gencar oleh
tentara Belanda yang telah siap menunggu. Tembakan balasan dari tentara Belanda
tepat mengenai Teuku Umar, dan jatuhlah ia dalam malam gelap itu. Sebelum
menghembuskan nafasnya yang terakhir ia berpesan kepada Pang Laat supaya
mayatnya jangan ditinggalkan dan minta dikuburkan di tempat yang tidak
diketahui oleh Belanda. Pang Laat, tangan kanan Teuku Umar yang terkenal gagah
berani itu, mengambil alih pimpinan. Pang Laat dengan cepat mengundurkan
pasukannya sambil mengusung mayat Teuku Umar. Kemudian jenazah itu disemayamkan
di sebuah meunasah. Dengan permufakatan pengikutnya dan rakyat setempat mayat
Teuku Umar diusung ke arah Hulu, dan dengan upacara yang sederhana Teuku Umar
dimakamkan di depan meunasah Desa Mugo.
Dalam pertempuran di Ujung Kala tentara
Belanda tidak mengetahui bahwa Teuku Umar telah tewas. Tetapi setelah
mengetahui bahwa Teuku Umar telah tewas dalam pertempuran itu, tentara Belanda
merasa lega. Usaha mereka telah berhasil, musuh besar yang berbahaya telah
tersingkir. Kekuatan lain tidak berarti lagi dan akan lapanglah jalan untuk
membersihkan perlawanan rakyat Aceh.
Namun demikian Van Heutsz belum merasa
puas sebelum melihat wajah Teuku Umar. Oleh sebab itu terus mengadakan
penyelidikan dan pencarian di mana Teuku Umar dimakamkan oleh pengikutnya. Van
Heutsz mengerahkan tentaranya ke Desa Mugo dan memaksa rakyat setempat untuk
menunjukkannya. Namun pengikut setia Teuku Umar tetap merahasiakannya. Konon
untuk menjaga segala kemungkinan Cut Nyak Din memerintahkan pengawalnya untuk
memindahkan jenazah Teuku Umar dari Desa Mugo ke Beutung Atas, yang terletak
antara Aceh Barat dan Aceh Tengah.
PERANAN TERAKHIR CUT NYAK DHIEN
Berita gugurnya Teuku Umar telah tersebar luas dan
berita ini sangat mengejutkan rakyat Aceh yang sedang gigih mempertahankan
"negaranya". Dilain pihak Belanda yang merasa dirinya telah berada
diatas angin terus mengumandangkan lagu-lagu kemenangan dari keberuntungan-keberuntungan
yang diperolehnya. Berita duka yang menyelimuti pejuang Aceh atas gugurnya
Teuku Umar merupakan pukulan yang amat berat dan ini bukan saja dirasakan oleh
Cut Nyak Din, melainkan juga dirasakan oleh seluruh rakyat yang ingin
meneruskan perjuangan.
Cut Nyak Din sendiri ternyata patut diberikan kata
pujian, karena sebagai isteri ia tetap tabah dan menerima cobaan yang berat itu
dengan sabar, bahkan tidak ada niatan sedikitpun dalam hatinya untuk
menghentikan langkah perjuangan. Dan untuk kepentingan tersebut ia telah
membulatkan tekad untuk maju kegaris depan, mengambil alih tongkat komando
perjuangan. Begitu juga sebagai bukti tanda setia kepada sang suami, ia
memerintahkan Pang Laat, pengawal setianya agar dapat merahasiakan makam Teuku
Umar dari intaian musuh.
Dengan berbekal tekad serta dukungan kuat dari para
pengikut setianya, Cut Nyak Din mengucapkan janji, bahwa ia akan meneruskan
perjuangan itu sampai nyawa berpisah dari badannya. Janji yang demikian itu
telah pernah diucapkannya sewaktu Teuku Cik Ibrahim Lamnga,
suaminya yang pertama gugur sebagai svuhada dalam suatu pertempuran dengan
pasukan Belanda di lembah Ngarai Beradin."
Dalam usaha mempertahankan diri dari kejaran serta
sergapan serdadu Belanda Cut Nyak Din menciptakan pasukan bergerak secara
mobil, yaitu dengan melakukan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain.
Sehingga serdadu Belanda yang telah berpengalaman sekalipun selalu gagal untuk
menemukannya.Untuk mengembalikan semangat juang para pengikutnya. Cut Nyak Din
terus menerus mendorong dan membangkitkannya. Sehingga semangat juang
pengikutnya tetap tinggi biarpun tertekan dalam berbagai penderitaan. Karena
itu tidaklah mengherankan bahwa pengikut setianya Cut Nyak Din secara bulat
mengucapkan sumpah setia dengan mengucapkan : "Langkahi dahulu mayat kami
sebelum menangkap Cut Nyak Din". Operasi-operasi
yang dilakukan oleh serdadu Belanda di Wilayah daerah Aceh Barat dan sekitarnya
sangat gencar karena itu 1901 Cut Nyak Din bersama pengawal setianya bergerak
melalui daerah Beutung menuju daerah Gayo (Aceh Tengah) dan kemudian menetap di
kampung Celala. Kampung tersebut terletak 30 km di sebelah barat daya kota
Takengon. Kehadiran Cut Nyak Din beserta pasukannya mendapat sambutan yang
simpati dari rakyat Gayo (Aceh Tengah yang ditandai dengan rasa suka relanya
rakyat menyediakan semua keperluan dan menjamin keamanan Cut Nyak Din.
Pada tahun 1902 Cut Nyak Din bertolak kembali ke
daerah Aceh Barat dan ia bersama pengikut lama menetap di Beutung Atas, daerah
ini terletak di perbatasan Aceh Tengah dan Aceh Barat. Cut Nyak Din kembali
kewilayah Aceh Barat karena dalam tahun 1902 Van Daalen yang ambisius itu
mengerahkan kekuatan tempurnya ke daerah Gayo (Aceh Tengah) dengan tujuan untuk
menyapu bersih perjuangan rakyat Gayo. Sejak itulah rakyat Gayo dianggap telah
takluk dibawah kekuasaan pemerintah Belanda yang ditandai dibangunnya sarana
dan prasarana pemerintahan.
Dalam kesempatan yang baik Cut Nyak Din selalu
menghibur pengikut-pengikutnya dengan cerita yang membangkitkan semangat.Cerita
ini merupakan selingan di samping memikirkan bagaimana cara untuk meneruskan
perjuangan.21 Karena semuanya dalam situasi serba kekurangan dan perlengkapan
serta bantuan tidak banyak dapat diharapkan dari rakyat, maka pasukannya
mendapat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Makanan makin sulit. Rakyat
tidak produktif karena selalu dalam kecemasan dan dalam tekanan kaum penjajah
Belanda. Sawah-ladang banyak yang terbengkalai.Daerah penghasil bahan makanan
telah dikuasai oleh Belanda. Dan yang paling menekan serta menambah penderitaan
para pejuang ialah bahan makanan sekarang diawasi dengan ketat oleh Belanda.
Para pejuang Aceh kekurangan bahan makanan. Karena itulah Cut Nyak Din beserta
pasukannya tidak jarang terpaksa makan daun-daunan, akar-akaran yang didapat di
hutan. Pakaian mereka itu-itu juga yang dipakai. Kering atau basah tetap
melekat di badan. Biarpun demikian beratnya penderitaan, namun tidak ada
terlintas dalam hati Cut Nyak Din untuk menyerah kepada Belanda. Ia sangat
membenci sikap yang demikian, seperti yang telah banyak dilakukan oleh para
uleebalang. Hal ini merupakan pengkhianatan terhadap bangsa dan agama. Karena
itu ia menekankan kepada pengikut-pengikutnya, bahwa yang gugur dalam
perjuangan mempertahankan tanah-air dan agama mati syahid. Tuhan telah
menjanjikan bagi orang ini suatu balasan yang setimpal. Tuhan telah menyediakan
surga, tempat ia akan kekal untuk selamanya. Oleh sebab itu kelak neraka
tempatnya, tempat yang telah ditetapkan oleh Tuhan bagi para pengkhianat.
Sementara itu di sektor lain. di daerah Pidie,
Sultan Muhamad Daud Syah dan Panglima Polim terus aktif mengomandokan
perlawanan terhadap Belanda." Karena itu Van Heutsz terus mengerahkan
kekuatannya untuk membersihkan daerah ini. Di samping itu tidak kalah pentingnya
peranan Snouck Hurgronye. Ia adalah otak dan perencana setiap langkah yang akan
dilakukan oleh Van Heutsz. Pejuang Aceh dengan tekad yang bulat terus
memberikan perlawanan. Pertempuran terus meluas dari Garus menjalar ke Glee
Gapui Grong-Grong, Padang Tiji dan Bereumeun tetapi Sultan dapat melepaskan
diri dari setiap kepungan yang dilakukan tentara Van Heutsz. Kemudian ia
beserta rombongan memindahkan markasnya ke Gelumpana Minyeuk.
Karena kegagalan Van Heutsz untuk menangkap sultan.
Van Heutsz dengan nasihat Snouck Hurgronye melakukan penangkapan terhadap istri
dan keluarga para pejuang dan kemudian ditahan sebagai sandra. Kemudian Belanda
mengeluarkan ancaman kepada para pejuang Aceh, barang siapa yang tidak
menyerah, istrinya akan menjadi ganti untuk menjalani hukuman. Taktik ini
sangat berhasil. Demikianlah maka Manteri Garus menyerah kepada Belanda, karena
ingin menyelamatkan anak-istrinya dari tawanan Belanda.
Pemikiran Snouck Hurgronye menunjang keberhasilan
Van Heutsz untuk menjalankan tugasnya.41 Dengan taktik ini banyaklah pejuang
Aceh yang turun untuk menebus anak-istrinya.
Setelah didapat informasi bahwa sultan dan panglima
berada di daerah Pidie bagian hulu. Van Heutsz segera mengerahkan pasukannya ke
sana. Tetapi secepat itu pula sultan telah berada di Merdu tempat markas
sultan. Sesungguhnya melelahkan bagi tentara Belanda. Rakyat masih tetap setia
kepada sultan. Mereka terus memberikan bantuan kepada sultan. Berbagai taktik
dan cara mereka tempuh untuk rakyat yang menunjukkan kesetiaan pada Pemerintah
Belanda. Mereka melakukan kegiatan bertani, berdagang dan pekerjaan lainnya,
tetapi pada malam hari mereka meninggalkan anak-istrinya di rumah dan ikut
memanggul senjata. Mereka di pihak sultan. Karena itu Belanda amat berat untuk
menjebak sultan Muhamad Daud Syah dan Panglima Polim.
Demikianlah sultan selalu bergerak cepat,
kadang-kadang menjauh dari musuh, tetapi kadang-kadang mendekati tempat musuh
dan mengadakan serangan yang tiba-tiba. Karena serangan yang dilakukan
terus-menerus oleh tentara Belanda, maka sultan dan Panglima Polim memperkuat
pertahanannya di Batee Ilek.5) Benteng ini belum pernah terkalahkan oleh
Belanda. Karena itu Van Heutsz mengirimkan ekspedisi khusus untuk menyerang
benteng ini. Penyerangan ini dapat berhasil setelah mengorbankan tentara yang
cukup banyak. Setelah benteng ini jatuh Panglima Polim bergerak ke arah timur
dan memimpin rakyat daerah Pasai untuk mengadakan perlawanan. Sultan dan
pengiringnya bergerak ke tanah Gayo dan terus mengadakan propaganda kepada
rakyat secara maraton keliling tanah Aceh.'"
Setiap daerah yang dikunjungi sultan mendapat sambutan yang hangat. Kemudian
sultan kembali ke daerah Pidie untuk meneruskan perlawanan.
Untuk mengikuti jejak langkah sultan, Van Daalen
ditugaskan dengan pasukannya bergerak ke wilayah timur. Dari daerah Peusangon
pasukannya menenbus Bukit Barisan ke jantung tanah Aceh, tanah Gayo dan melalui
Beuntung terus ke Meulaboh. Selama dua bulan Van Daalen mengadakan pengejaran,
tetapi tidak membawa hasil.Karena tidak berhasil menangkap sultan, Belanda
sekarang mengubah taktik. Mereka berusaha mencari persembunyian istri sultan.
Usaha ini berhasil. Belanda berhasil menangkap istri sultan di Paute Raja,
daerah Peusangan. Kemudian Belanda berhasil pula menawan istri sultan yang lain
yakni Cut Meurong bersama putranya. Tuanku Raja Ibrahim. Setelah berhasil
menawan istri sultan, Pemerintah Belanda mengeluarkan ancaman. Apabila dalam
tempo satu bulan sultan tidak menyerah, anak-istrinya akan dibuang. Sebagai
orang yang bertanggungjawab terhadap anak-istri dan atas pertimbangan lain
akhirnya Sultan Muhamad Daud Syah menyerah kepada Belanda. Peristiwa ini
terjadi pada tanggal 15 Januari 1903. Penyerahan Baginda disusul oleh
penyerahan Panglima Polim, Tuanku Raja Keumala dan diikuti oleh uleebalang-uleebalang
yang lain.81 Tetapi yang diharapkan Belanda, dengan tertangkapnya sultan
perlawanan rakyat Aceh akan padam, meleset sama sekali. Rakyat Aceh masih terus
memberikan perlawanan baik berkelompok secara bergerilya maupun secara
perorangan.
Semangat perlawanan Cut Nyak Din tidak pernah padam.
Ia terus mengobarkan semangat pengikut-pengikutnya dan menyampaikan seruan
kepada seluruh rakyat Aceh untuk meneruskan perlawanan terhadap Belanda.
Orang-orang kafir harus diusir dari Aceh. Seruan Cut Nyak Din untuk melanjutkan
perjuangan mendapat simpati dari rakyat Aceh. Kata-katanya yang tajam membakar
semangat pemudapemuda Aceh. Rakyat Aceh sangat merindukannya. Cut Nyak Din
adalah ratu penyelamat yang bertakhta di hutan rimba. Pada suatu saat ia akan
datang dengan kekuatannya untuk mengusir penjajah Belanda dari tanah Aceh.
Inilah harapan rakyat pengagum Cut Nyak Din. Seruan Cut Nyak Din bahkan
menggema sampai ke Sumatra Barat."
Didukung atau tidak dan sungguhpun menderita Cut
Nyak Din terus memberikan perlawanan. Ia bertekad akan maju terus bersama
kekuatan yang ada padanya. Dengan serba kekurangan ia dapat menghindarkan diri
dari setiap usaha tentara Belanda untuk menangkapnya. Cut Nyak Din berusaha
keras untuk mempertahankan diri. Ia selalu berpindah tempat, dari tempat yang
satu ke tempat yang lain. Tempatnya sangat rahasia, tidak diketahui oleh rakyat
setempat, apalagi oleh musuh. Di tempat persembunyiannya dibuat gubuk darurat
dengan gerak cepat. Gubuk itu hanya ditutupi dedaunan untuk berlindung. Pada
siang hari mereka menghindari pemakaian api, karena kepulan asap api itu dapat
memberi petunjuk kepada tentara Belanda. Jalan menuju ke tempat ini dibuatkan
jejak-jejak yang menyesatkan musuh sehingga setiap usaha untuk mendekati tempat
ini akan gagal. Karena dibuat sedemikian rupa telitinya, arah jejak ini selalu
berlawanan dengan tempat yang dituju. Untuk menjaga keselamatan Cut Nyak Din,
pengikut-pengikutnya telah mengatur penjagaan secara bergilir.
Pada malam hari menjelang fajar pasukan telah siap
sedia dan barang-barang telah dikemasi. Hal ini untuk menghindari sergapan
tentara Belanda. Dengan demikian mereka dengan mudah dapat bergerak cepat.
Demikian berhati-hatinya pasukan Cut Nyak Din, sehingga susah bagi tentara
Belanda untuk menemukan tempat persembunyian Cut Nyak Din beserta rombongannya.
Cut Nyak Din berpendirian bahwa lebih mulia hidup di
hutan untuk menderita bersama pengikut-pengikutnya daripada hidup senang dengan
kaum penjajah di kota, tetapi terbelenggu dalam kekuasaannya.101 Karena itu ia
tidak akan hidup untuk menghambakan diri di bawah kekuasaan musuh. Alangkah
hina dan lemahnya suatu bangsa yang suka melakukan perbuatan demikian. Dengan
tidak disadari usia Cut Nyak Din makin bertambah. Fisiknya menjadi lemah,
tenaga makin berkurang. Penyakit makin mudah mendekatinya. Hal ini ditambah
dengan hidup yang tidak teratur. Makanan kurang dan obat-obatan yang diperlukan
tidak tersedia satu-satunya alat yang ampuh untuk ketenangan jiwanya, hanyalah
menyerahkan diri dan tawakkal kepada Tuhan, karena semua itu bisa terjadi atas
kehendak Tuhan. Demikianlah Cut Nyak Din menyerahkan diri secara bulat kepada
Tuhan.
Perlawanan yang diberikan oleh Cut Nyak Din mungkin
tidak berarti lagi, tetapi keteguhan hatinya dan pendiriannya yang kokoh serta
semangatnya yang tetap berkobar sangat mengagumkan. Belanda tidak dapat
meremehkan Cut Nyak Din. Belanda telah berusaha mengikuti jejak dan langkahnya,
tetapi belum dapat menemukan apalagi menangkapnya. Cut Nyak Din lebih cerdik,
firasatnya tajam dan pikirannya tetap segar untuk mengatur dan menentukan
langkahlangkah yang akan ditempuh oleh pengikut-pengikutnya.
Pengikutpengikutnya tetap dengan patuh mentaati segala perintah yang diberi
Ikan oleh Cut Nyak Din.
Pendirian Cut Nyak Din yang tak tergoyahkan ini
memberi kekuatan kepada pengikutnya untuk meneruskan perjuangan."' Untuk
menyelamatkan ratunya dari segala penderitaan, pengikut-pengikutnya berusaha
dengan segala kekuatan. Kadang-kadang dalam perjalanan untuk menghindarkan diri
dari sergapan Belanda, Cut Nyak Din digendong atau diusung oleh
pengikut-pengikutnya Mereka menganggap pimpinannya ini sebagai seorang ibu yang
berhati mulia. Cut Nyak Din selalu memberikan nasihat dan membimbing anak
buahnya ke jalan yang benar, yaitu melawan Belanda dan menegakkan kemerdekaan
Aceh seperti semula.
Karena tekanan yang terus dilancarkan oleh tentara
Belanda, maka ruang gerak pejuang Aceh makin sempit. Pasukannya makin jauh
terdesak ke daerah Hulu, ke daerah pedalaman tanah Aceh. Daerah ini pun dijamah
oleh tentara Belanda. Disamping itu perlawanan yang diberikan tidak mengikuti
satu komando yang terorganisasi baik dari satu pimpinan. Masing-masing kelompok
pejuang bergerak menurut kehendak dan kemauannya sendiri. Jadi kelihatan seperti
terlepas antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, padahal
seluruhnya mempunyai tujuan yang sama, yaitu menentang penjajahan Belanda.
Bantuan dari rakyat makin terbatas, karena Belanda
mengawasi dengan ketat setiap langkah dan gerak rakyat. Belanda tidak segan
menghukum siapa saja yang memberikan bantuan kepada kaum pejuang. Suatu taktik
yang berhasil pula dijalankan oleh Pemerintah Belanda yaitu memberi surat
ampunan kepada pihak pejuang Aceh yang kembali ke masyarakat. Mereka kemudian
dapat bebas berusaha seperti rakyat lainnya. Taktik ini sangat merugikan
pejuang Aceh, karena yang lemah imannya akan mudah dipengaruhi Belanda.
Sementara itu orang yang teguh pendirian dicap oleh Belanda sebagai penjahat
dan dianggap sebagai gerombolan liar yang mengacau keamanan. Pejuang Aceh yang
mengadakan perlawanan di pesisir timur Aceh makin terdesak ke arah pedalaman.
Kemudian mereka memusatkan pertahanannya di hulu Pasai dan Samarkilang.
Pada tanggal 8 Pebruari 1904 Van Daalen melakukan
perjalanan panjang, yang ditempuh kira-kira 165 hari dengan tujuan untuk
menumpas habis perlawanan rakyat Aceh yang masih aktif di tanah Gayo (Aceh
Tengah dan Aceh Tenggara). Van Daalen membawa kekuatannya yang terdiri atas 10
brigade marsose dengan peralatan yang lengkap.':' Pasukan ini mulai bergerak
dari Sumatra Utara, Tanah Alas, Gayo Lues dan langsung ke Aceh Tengah. Dalam
perjalanan ini pasukan Van Daalen mendapat hambatan yang hebat dari rakyat Alas
dan Gayo. Dengan melakukan tindakan yang kejam pasukan Van Daalen terus maju
melangkahi mayat-mayat para pejuang Aceh yang secara mati-matian mempertahankan
haknya. Tercatatlah pertempuran-pertempuran dahsyat yang tak dapat dilupakan
oleh anakcucu rakyat Aceh seperti di Kute Reh, Lekit. Rerohan dan tempattempat
lainnya.11' Dengan sukses besar Van Daalen meneruskan perjalanannya ke
Takengon. Kemudian ia memusatkan kekuatannya di daerah sekitar Laut Tawar.
Sedang pejuang Aceh sebagian menyingkir ke arah Meulaboh dan sebagian lagi ke
daerah Samarkilang di hulu Sungai Jumbu Aye. Daerah ini sangat strategis dan
rawan serta sangat sukar ditembus oleh tentara Belanda.
Untuk mengimbangi ini Pemerintah Belanda membangun
benteng yang kuat dan lengkap perlengkapannya di Lukup (Serbejadi). Benteng ini
sangat tepat karena dapat membendung arus lalu lintas para pejuang Aceh yang
bergerak di punggung Bukit Barisan, sehingga front pejuang Aceh dapat
diputuskan antara satu dengan yang lain. Kemudian Van Daalen yang telah berjasa
itu diangkat menjadi gubernur Aceh. Pada masa ini perlawanan
rakyat sudah tidak berarti lagi dan para pejuang dianggap orang jahat atau
gerombolan liar. Demikian juga pejuang Aceh tidak terlalu bergairah lagi untuk
memberikan perlawanan.
Cut Nyak Din yang telah bertakhta selama enam tahun
di hutan belantara meniti punggung dan lereng Bukit Barisan bagian utara tetap
bertahan, la berusaha keras mempertahankan diri supaya jangan jatuh ke tangan
musuh. Fisiknya yang makin lemah dan tenaga yang makin berkurang menambah
penderitaan baginya dan ditambah lagi dengan penyakit mata. Matanya telah
rabun, sehingga ia terpaksa diusung oleh pengikut-pengikutnya untuk meneruskan
perjalanan dan perpindahan. Hubungan dengan pejuang-pejuang lainnya sudah
terputus sama sekali.
Melihat keadaan Cut Nyak Din yang sangat menyedihkan ini,
Pang Laut, stafnya yang setia, menyarankan untuk menghentikan saja perlawanan.
Pertama karena Pang Laut melihat keadaan Cut Nyak Din yang tak memungkinkan
lagi untuk bergerak. Kedua karena kekuatan pejuang Aceh kelihatan semakin
lumpuh. Banyak yang berjatuhan, gugur atau menyerah kepada Belanda. Tetapi apa
yang terjadi? Cut Nyak Din yang kelihatan tak berdaya itu, memberikan tantangan
yang keras. Semangatnya meledak lagi seperti orang yang berusia muda. Dengan
suara yang keras ia mengatakan tidak akan menyerah kepada kafir; lebih baik
mati di hutan ini. untuk meneruskan perjuangan suci.
Tanpa sepengetahuan Cut Nyak Din, secara diam-diam
Pang Laut mengadakan kontak dengan pos Belanda terdekat. Pang Laut tidak sampai
hati melihat keadaan Cut Nyak Din semakin payah.14' Karena itu ia merasa
berkewajiban untuk menyelamatkan jiwa pemimpin yang dicintainya itu. Untuk
maksud ini Pang Laut mengirimkan utusan dan menyampaikan maksudnya kepada
Kapten Veltman yang menjadi komandan tentara Belanda di Meulaboh. Ia bermaksud
menunjukkan tempat persembunyian Cut Nyak Din dengan mengajukan syarat.
Keselamatan Cut Nyak Din harus dijamin dan Pemerintah Belanda harus memberikan
perlakuan yang sesuai dengan derajat dan kedudukannya sebagai wanita terhormat
dalam masyarakat Aceh. Tawaran yang menguntungkan ini diterima oleh Veltman
dengan senang hati dan apa yang diusulkan oleh Pang Laut dapat diterimanya pula
Untuk menguji kebenarannya. Kapten Veltman mengadakan tanya-jawab seperlunya
dengan utusan Pang Laut. Setelah yakin akan kebenarannya Kapten Veltman
menugaskan Letnan Van Vuuren dengan pasukannya yang lengkap untuk melaksanakan
tugas ini.Seperti kesepakatan yang telah ditentukan, pasukan
Letnan Van Vuuren melakukan tugas ini dengan sangat hati-hati dan rahasia.
Rencana ini tidak boleh bocor. Tetapi Letnan Van Vuuren sangat terkejut karena
setelah dilakukan pengepungan dan akan melakukan penangkapan. Cut Nyak Din
mencabut rencongnya untuk memberikan perlawanan terhadap Van Vuuren yang hendak
menangkapnya. Seandainya ia tidak cepat-cepat mengelak akan koyaklah perutnya
oleh rencong Cut Nyak Din yang sangat cepat datangnya. Karena itu cepat pula
Van Vuuren berusaha mengamankannya. Ia berusaha merebut rencong Cut Nyak Din.
Cut Nyak Din jatuh tak berdaya, tapi dari mulutnya keluar kata-kata yang
menggetarkan hati tentara Van Vuuren. "Jangan sentuh badan saya
kaphe."
Karena kemarahan yang tak terkendalikan lagi. Pang
Laut juga mendapat caci-maki dari Cut Nyak Din. Ia mencaci Pang Laut sebagai
penghkianat, munafik dan penjilat. Pang Laut telah mengkhianatinya. Mengapa
sampai terjadi hal ini? Rupanya Pang Laut telah bersekongkol dengan penjajah.
Demikianlah caci-maki dan kebencian Cut Nyak Din terhadap Belanda dan
pengkhianat bangsa.
Cut Nyak Din dan pengikut-pengikutnya menjadi tawanan.
Teuku Ali Bait dapat lolos dari sergapan pasukan Van Vuuren. Teuku Ali Bait
terus menyingkir ke daerah Aceh Tengah, tetapi kemudian dapat ditawan oleh
pasukan marsose yang terus mengikutinya.Letnan Van Vuuren kagum melihat
kesederhanaan hidup Cut Nyak Din. Ia mula-mula mengira Cut Nyak Din sebagai
seorang bangsawan akan hidup serta berkecukupan seperti para bangsawan pada
umumnya. Perwira Belanda itu menggambarkan Cut Nyak Din memakai pakaian
kebesaran dan diiringi oleh abdi yang menghambakan diri padanya. Van Vuuren
memberikan penghargaan yang tinggi atas ketabahan dan keberanian Cut Nyak Din
yang jarang dimiliki oleh wanita-wanita di negerinya, la adalah
seorang srikandi yang setia kepada sumpahnya untuk membela tanah-airnya. Karena
itu walaupun seorang lawan, Van Vuuren memberikan upacara penghormatan secara
militer terhadap Cut Nyak Din.
Dalam tawanan di Kotaraja Cut Nyak Din dipisahkan
dengan kawan-kawannya. Ia ditempatkan dalam sebuah rumah khusus sebagai tawanan
istimewa. Perawatan dan pengobatan terhadap Cut Nyak Din sangat diperhatikan
oleh Pemerintah Belanda, sehingga penyakitnya berangsur pulih dan matanya yang
rabun sudah mengalami perubahan.
Kembalinya Cut Nyak Din ke tengah masyarakat Aceh
mendapat perhatian yang luar biasa dari rakyat yang mencintainya. Banyak orang
yang menduga bahwa Cut Nyik Din telah gugur, karena telah sekian tahun tidak
ada kabar beri'anya. Karena itulah tokoh-tokoh Aceh dan rakyat menyempatkan
diri untuk mengunjungi Cut Nyak Din untuk melepaskan rindu. Kedatangan pengunjung
ini tak dapat disibukkan oleh kedatangan para tamu. Tetapi rupanya kecintaan
rakyat yang berlebihan ini membawa malapetaka bagi Cut Nyak Din. Kunjungan yang
terus-menerus ini menyebabkan Pemerintah Belanda menjadi curiga. Belanda
mendengar bahwa hal ini, kalau dibiarkan terus, akan memberi kesempatan kepada
Cut Nyak Din untuk mengobarkan kembali api perlawanan yang telah hampir padam.
Hal ini adalah suatu bahaya yang harus cepat-cepat disingkirkan, supaya jangan
menjalar lagi.
Karena persoalan tersebut, timbul perdebatan antara
Van Daalen dan Van Vuuren sebagai bawahannya. Gubernur Van Daalen melihat bahwa
rakyat Aceh masih mencintainya dan seruannya masih tajam menusuk hati rakyat.
Kalau ia diberi kesempatan buka suara tidak mustahil akan bangkit suatu
kekuatan untuk mendukungnya. Pasti akan lahir suatu kekuatan baru untuk
menentang Pemerintah Belanda. Karena itu sebelum terjadi hal yang tidak
diingini, lebih baik ia diasingkan dari lingkungan rakyat yang menjunjung dan
memujanya. Dengan demikian risiko akan ringan. Tetapi Van Vuuren berpendapat
lain. Ia mempertahankan agar supaya Cut Nyak Din jangan dijatuhi hukuman
pengasingan. Biarlah ia tetap dirawat dan dipelihara di Aceh. Apalagi melihat
fisikn>a yang sangat lemah dan usianya yang
sudah lanjut. Suatu hal lagi yang membuat Van Vuuren tetap pada pembelaannya ialah janji yang telah disepakatinya dengan Pang Laut. Van Vuuren telah menyanggupi untuk menyelamatkan Cut Nyak Din dari penderitaan dan akan menempatkan Cut Nyak Din pada tempat yang layak. Tetapi usaha Van Vuuren seorang bawahan tidak berhasil, karena keputusan terakhir ada pada atasannya Van Daalen.
sudah lanjut. Suatu hal lagi yang membuat Van Vuuren tetap pada pembelaannya ialah janji yang telah disepakatinya dengan Pang Laut. Van Vuuren telah menyanggupi untuk menyelamatkan Cut Nyak Din dari penderitaan dan akan menempatkan Cut Nyak Din pada tempat yang layak. Tetapi usaha Van Vuuren seorang bawahan tidak berhasil, karena keputusan terakhir ada pada atasannya Van Daalen.
Cut Nyak Din serta pengiringnya dinaikkan ke kapal
dan dibawa ke Batavia, kemudian diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Di tempat
pembuangan hidupnya terjamin, rumah dan pelayan tersedia sesuai dengan
kedudukannya sebagai seorang bangsawan yang terhormat. Ia memperoleh segala
>ang diperlukan, tetapi hidupnya seperti burung dalam sangkar. Jiwanya
terkekang dan ia tidak diizinkan oleh Pemerintah Belanda untuk melihat tanah
Aceh yang dirindukannya.
Demikianlah masa yang dilaluinya penuh dengan
kenangan. Ia hidup terpisah dengan saudara, rakyat yang mencintainya karena
menjalani hukuman membela bangsa tanah-airnya.
Masa terus berlalu, batas hidup telah ditentukan Tuhan.Inna Lillahi Wainna
Ilaihi Rojiun. Cut Nyak Din wafat tanggal 6 Nopember 1908.
APRESIASI TERHADAP CUT NYAK DHIEN
Menurut
penjaga makam, makam Cut Nyak Dhien baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan
Gubernur Aceh, Ali Hasan. Pencarian dilakukan berdasarkan data yang ditemukan
di Belanda.[7]
Masyarakat Aceh di Sumedang
sering menggelar acara sarasehan.
Pada acara tersebut, peserta berziarah ke makam Cut Nyak Dhien dengan jarak
sekitar dua kilometer.[7]
Menurut pengurus makam, kumpulan masyarakat Aceh di Bandung
sering menggelar acara tahunan dan melakukan ziarah setelah hari pertama Lebaran.
Selain itu, orang Aceh dari Jakarta
melakukan acara Haul setiap bulan November.
Makam
Cut Nyak Dhien pertama kali dipugar pada 1987
dan dapat terlihat melalui monumen peringatan di dekat pintu masuk yang
tertulis tentang peresmian makam yang ditandatangani oleh Gubernur Aceh Ibrahim
Hasan pada tanggal 7
Desember 1987. Makam Cut Nyak Dhien dikelilingi pagar
besi yang ditanam bersama beton dengan luas 1.500 m2.
Di belakang makam terdapat musholla
dan di sebelah kiri makam terdapat banyak batu nissan yang dikatakan sebagai
makam keluarga ulama H. Sanusi.
Pada batu nissan Cut Nyak Dhien, tertulis
riwayat hidupnya, tulisan bahasa
Arab,
Surah At-Taubah
dan Al-Fajr,
serta hikayat cerita Aceh.Jumlah peziarah ke makam Cut Nyak Dhien berkurang
karena Gerakan Aceh Merdeka
melakukan perlawanan di Aceh untuk merdeka dari Republik Indonesia.
Selain itu, daerah makam ini sepi akibat sering diawasi oleh aparat.Kini, makam
ini mendapat biaya perawatan dari kotak amal di daerah makam karena pemerintah
Sumedang tidak memberikan dana.
1. Biografi dalam Seni
Perjuangan Cut
Nyak Dien diinterpretasi dalam film drama
epos
berjudul Tjoet Nja' Dhien pada tahun 1988 yang disutradarai
oleh Eros
Djarot dan dibintangi Christine
Hakim sebagai Tjoet Nja' Dhien, Piet Burnama sebagai Pang Laot, Slamet
Rahardjo sebagai Teuku Umar dan juga didukung Rudy Wowor.
Film ini memenangkan Piala Citra sebagai film terbaik, dan merupakan film Indonesia
pertama yang ditayangkan di Festival Film Cannes (tahun 1989)
Pada 13 April
2014, sebuah karya seni untuk mengenang semangat perjuangan dan perjalanan
hidup Cut Nyak Dhien (CND) dalam bentuk teater monolog yang dimainkan dan
disutradarai oleh Sha Ine Febriyanti; dipentaskan pertama kali di
Auditorium Indonesia Kaya, Jakarta. Naskah berdurasi 40 menit yang ditulis oleh
Prajna Paramita tersebut kemudian dipentaskan kembali pada 2015 di Jakarta,
Pekalongan, Magelang, Semarang, dan Banda Aceh. Rencananya, teater monolong CND
juga akan dipentaskan di Australia dan Belanda.Biografi beliau juga pernah
dituangkan dalam bentuk cerita bergambar secara berseri dalam majalah anak-anak
Ananda.
2. Pengabdian
Berikut beberapa hal
yang dilakukan bangsa Indonesia untuk mengenang perjuangan Cut Nyak Dien.
Ø Biografinya pernah dituangkan dalam bentuk certa
bergambar secara berseri dalam majalah anak-anak Ananda.
Ø Sebuah kapal perang TNI-AL diberi nama KRI Cut Nyak
Dhien.
Ø Mata uang rupiah yang bernilai sebesar
Rp10.000,00 yang dikeluarkan tahun 1998 memuat gambar Cut Nyak Dien dengan
deskripsi Tjoet Njak Dhien.
Ø Perangko bernilai 1500 memuat gambar Cut Nyak
Dien.
Ø Namanya diabadikan di berbagai kota Indonesia
sebagai nama jalan.
Ø Masjid Aceh kecil didirikan di dekat makamnya
untuk mengenangnya.
PENUTUP
Cut Nyak Din telah tiada, ia telah wafat dalam
pengasingan Belanda di Sumedang, Jawa Barat. Selama hidup ia telah menempuh
berbagai liku perjuangan. Duka-derita telah dirasakannya dalam usaha menentang
penjajahan Belanda di tanah Aceh khususnya dan tanah Indonesia umumnya.
Kemudian pada akhir hayatnya ia merasakan betapa getirnya hidup sebagai seorang
buangan, jauh terpisah dari tanah kelahiran yang sangat dicintainya.
Kendatipun Cut Nyak Din telah tiada, namanya tetap
abadi dalam hati bangsa dan menjadi kebanggaan kaum wanita. Perjuangannya
bernilai dan sekaligus mengangkat kaumnya. Cut Nyak Din telah mencurahkan
tenaga dan fikirannya serta seluruh hidupnya bagi kejayaan bangsa, negara dan
agama. Perjuangan Cut Nyak Din dapat menjadi contoh dan panutan bagi wanita
kini dan masa mendatang. Jelas betapa besar peranan Cut Nyak Din
dalanv-menentang penjajahan Belanda, la ikut aktif menyumbangkan tenaga dan fikiran,
beliau turut mendampingi kaum pria untuk mengusir penjajah demi terciptanya
suatu bangsa yang bebas dari penjajahan, penguasaan bangsa atas bangsa.Kaum
wanita seperti yang telah diperankan oleh Cut Nyak Din bukanlah suatu
angan-angan, tetapi suatu kenyataan. Sejarah telah menjadi saksi, bahwa ia
telah mengorbankan jiwa dan raga, serta harta bendanya untuk menegakkan
kemerdekaan bangsa, tanah-air dan agama.
Dapatlah kiranya kita ambil suatu makna yang
terkandung di dalamnya, betapa besar perjuangan Cut Nyak Din. Dua orang
suaminya telah gugur, tetapi ia tetap keras pada pendiriannya, yaitu menentang
penjajahan.Dengan gugurnya kedua orang suaminya semangat juang Cut Nyak Din
tidak patah, bahkan sebaliknya makin menyala. Sukar bagi musuh untuk menilai betapa
besar peranan Cut Nyak Din dalam mendampingi suaminya. Sering ia memegang
peranan penting, bersemangat gagah-berani menentang musuh. Cut Nyak Din,
mempunyai dendam yang mendalam terhadap musuh yang dianggapnya kafir. Sikap ini
pula kiranya yang menitis kepada anaknya, Cut Gambang. Cut Gambang terus
bertempur mendampingi suaminya, Tengku Mayet di Tiro, setelah Cut Nyak Din
tertawan. Ia tidak mengenal kata damai. Perjuangan dilakukan dengan keberanian
yang luar biasa, yang melebihi keberanian laki-laki.
Pada akhir tahun 1910, Teuku Mayet di Tiro dalam
suatu serangan di sekitar daerah Tangse dihadapi oleh pasukan tentara Belanda
di bawah pimpinan Schmid. Maka kontak senjata pun tak dapat dihindarkan. Ketika
Tengku Mayet di Tiro tertembak. Cut Gambang tampil ke depan memegang senjata
untuk melindungi suaminya. Ketika itu juga peluru tentara Belanda menembus
dadanya dan dada suaminya. Maka jatuhlah ia ke tanah.
Ketika
Schmid mengadakan pembersihan pada arena pertempuran terdapatlah tubuh Cut
Gambang sudah terlentang menunggu malaikat maut mencabut nyawanya. Ia menderita
luka parah pada perutnya. Walaupun sudah dalam keadaan sekarat, namun wajah dan
air mukanya masih terlihat sikap dan kebencian yang dalam terhadap Belanda.
Walaupun sakit yang dideritanya luar biasa, namun sedikit pun ia tidak mengeluh
dan merintih. Ia tidak mengeluarkan suara. Bahkan ia tersenyum
menantikedatangan maut.Sungguh mengagumkan. Betapa kebencian yang terpendam
dalam hati Cut Gambang terhadap Belanda. Sikap ini dapat terlihat ketika Schmid
menawarkan jasa baiknya untuk memberi pertolongan. Cut Gambang memalingkan
mukanya sambil berkata "Janganlah dekati saya kafir buduk".
Demikianlah keras sikap Cut Gambang. Ia lebih senang mati daripada hidup di
tangan kafir.
Demikianlah sebuah sikap yang diwariskan Cut Nyak
Din kepada anaknya Cut Gambang. Sikap ini merupakan sikap yang patut dikagumi
oleh kaum wanita Indonesia. Demikianlah cara Srikandi Aceh menentang
penjajahan. Perjuangan Cut Nyak Din dapat menjadi studi perbandingan bagi kaum
ibu untuk membangun negara dan agama. Semoga para syuhada yang telah gugur
untuk kepentingan nusa dan bangsa serta agama diterima hendaknya di sisi Tuhan
Yang Maha Esa. Amin ya rabbal alamin.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar